Jakarta – Impian menyediakan pendidikan berkualitas untuk anak-anak dari keluarga miskin kini kian nyata. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengonfirmasi bahwa 100 dari 200 titik Sekolah Rakyat yang direncanakan akan didanai langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Langkah strategis ini disampaikan Gus Ipul usai melapor kepada Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/4/2025).
Ia menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai sarana penunjang seperti tempat tidur, meja belajar, hingga kursi untuk menunjang proses belajar-mengajar di sekolah berasrama tersebut.
“Sebanyak 53 titik sedang kami matangkan. Penyediaan fasilitas seperti tempat tidur siswa dan perlengkapan belajar telah berjalan. Kami harap tahun ajaran ini sebagian sudah bisa dimulai,” ujar Gus Ipul.
Ia menambahkan bahwa program Sekolah Rakyat tidak hanya soal bangunan fisik, tetapi juga kesiapan kurikulum. Kurikulum tersebut dipimpin oleh mantan Menteri Pendidikan Muhammad Nuh dan saat ini sudah memasuki tahap finalisasi.
“Insya Allah, Juni 2025 semuanya rampung. Setelah itu, guru dan kepala sekolah akan mendapatkan pelatihan tambahan,” jelasnya.
Hingga berita ini diturunkan, 40 titik sekolah sudah memasuki tahap persiapan. Titik-titik tersebut merupakan aset milik Kementerian Sosial yang akan dilengkapi sarana secara simultan.
Sekolah Rakyat merupakan program inisiatif Presiden Prabowo yang ditujukan bagi anak-anak miskin ekstrem. Sekolah ini dirancang sebagai sistem pendidikan berasrama dari jenjang SD hingga SMA, dengan kurikulum nasional dan materi khusus sesuai kebutuhan lokal siswa.
Program ini bertujuan memutus rantai kemiskinan struktural melalui pendidikan yang terjangkau dan berkualitas. Untuk mendukung implementasinya, Gus Ipul menunjuk Muhammad Nuh sebagai Ketua Tim Formatur, serta menggandeng berbagai instansi untuk menangani perizinan, pelatihan guru, dan pengembangan kurikulum.
Diharapkan, kehadiran Sekolah Rakyat bisa menjadi motor perubahan sosial dan ekonomi bagi masyarakat miskin, serta memperkecil kesenjangan pendidikan di Indonesia.

