Jakarta – Memilih jenis material atap rumah tak bisa sembarangan. Selain soal estetika, kekuatan dan daya tahan menjadi faktor utama karena menyangkut keamanan penghuni. Di Indonesia, genteng tanah liat masih menjadi pilihan paling umum, namun kini makin banyak opsi material atap yang ditawarkan, mulai dari spandek hingga bitumen.
Menurut Panggah Nuzhulrizky dari PT Gaharu Konstruksindo Utama, genteng tanah liat tetap mendominasi pasar karena harganya yang murah dan kemudahan pemasangan. Warna khas oranye kecoklatan membuatnya mudah dikenali. Di pasaran, genteng tanah liat dijual dengan harga mulai dari Rp 1.500 hingga Rp 3.500 per buah.
Namun, untuk keperluan rumah subsidi, material seperti spandek kini banyak digunakan. Material ini merupakan campuran seng, aluminium, dan baja ringan, yang menjadikannya ringan, tahan api, dan cukup kuat. Meski begitu, spandek memiliki ketebalan yang beragam, dan versi tipisnya tidak terlalu tahan terhadap tekanan dan angin kencang.
Genteng glazur, atau genteng glossy, menjadi pilihan bagi yang ingin sentuhan estetika lebih tinggi. Genteng ini mengkilap dan tersedia dalam warna cerah. Walaupun tampilannya menarik, permukaannya licin jika basah dan berisiko bagi pekerja yang harus berjalan di atasnya. Harga genteng glazur berkisar antara Rp 3.500 hingga Rp 9.500 per buah.
Yang paling mencolok dari segi daya tahan adalah atap bitumen, material berbasis aspal modifikasi yang dikenal tahan lama dan ramah lingkungan. Bitumen dipasang dengan proses bertahap hingga tiga lapis, menjadikannya cocok untuk rumah-rumah kecil dengan tampilan atap yang rapi. Meski begitu, harga bitumen cukup tinggi, mulai dari Rp 160.000 hingga Rp 450.000 per lembar.
Sementara itu, genteng uPVC (Unplasticized Polyvinyl Chloride) juga mulai digemari karena tahan korosi dan mampu meredam suara serta panas. Cocok untuk iklim tropis, genteng ini hadir dalam berbagai warna dan ukuran. Namun, ketebalannya yang serupa dengan spandek membuatnya rentan patah jika tertimpa beban berat. Harganya mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 417.000 per lembar.
Meski banyak pilihan, para ahli menyarankan konsumen untuk menyesuaikan jenis atap dengan kebutuhan struktural, iklim daerah, serta anggaran yang tersedia. Ketahanan jangka panjang dan kemudahan perawatan harus menjadi prioritas utama dalam memilih material atap rumah.

