Jakarta – Tak selamanya yang besar tetap berjaya. Itulah yang kini tengah dialami Google, raksasa mesin pencari dunia yang mulai ditinggalkan penggunanya. Gelombang migrasi informasi tengah terjadi, dipicu kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) serta platform sosial baru seperti TikTok yang lebih disukai generasi muda.
Kondisi ini diperkuat oleh data terbaru hasil survei The Verge bersama Vox Media dan Two Cents Insights terhadap 2.000 pengguna internet di Amerika Serikat. Hasilnya mencengangkan: 42% responden menyebut Google semakin tidak berguna, sementara 52% sudah mulai beralih ke chatbot AI dan platform seperti TikTok untuk mencari informasi.
“Teknologi warisan seperti Google dan platform sosial lainnya mulai kehilangan kepercayaan masyarakat. Banyak orang yang beralih ke chatbot AI dan komunitas kecil,” demikian bunyi laporan The Verge.
Penurunan kepercayaan terhadap Google tidak terjadi begitu saja. Survei menunjukkan 76% responden merasa lebih dari seperempat hasil pencarian Google saat belanja online merupakan konten bersponsor. Ironisnya, hanya 14% dari konten tersebut yang dianggap membantu secara nyata.
Wakil Presiden Senior Layanan Apple, Eddy Cue, mengungkapkan dalam sidang antimonopoli bahwa pencarian melalui Safari—browser bawaan Apple yang bermitra dengan Google—mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam 22 tahun. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa pengguna mulai mencari alternatif.
“Fitur AI pencarian belum cukup baik, tetapi kami terus eksplorasi opsi. Apple pun bekerja sama dengan Perplexity, OpenAI, dan Anthropic,” kata Cue.
Apple pun mulai serius memasuki arena ini dengan rencana mengintegrasikan pencarian berbasis AI di Safari, menggantikan Google sebagai default search engine mulai tahun depan. Di sisi lain, integrasi ChatGPT ke dalam Siri dan rencana kehadiran Gemini dari Google di iPhone mempertegas ketegangan teknologi antara raksasa-raksasa ini.
Tak hanya Apple, pasar kini dibanjiri berbagai alternatif mesin pencari berbasis AI, seperti iAsk.Ai, Komo AI, Brave Search, Andi Search, dan You.com. Sebanyak 61% Gen Z dan 53% milenial mengaku telah menggunakan tool AI ini untuk mencari informasi yang lebih spesifik dan relevan.
Gelombang perubahan perilaku pencarian informasi ini menandai pergeseran paradigma dari kebergantungan pada satu otoritas besar menuju pendekatan yang lebih terdesentralisasi dan komunitas-sentris.

