Pingtung – Dalam langkah bersejarah, Taiwan secara resmi menghentikan operasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terakhirnya, Reaktor No. 2 di Pembangkit Listrik Maanshan, Kabupaten Pingtung, pada Sabtu malam. Penutupan ini menandai berakhirnya empat dekade penggunaan energi nuklir di Taiwan, sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menjadi “tanah air bebas nuklir” pada tahun 2025.
Reaktor Maanshan 2 mulai mengurangi output listriknya sejak Sabtu siang dan secara resmi terputus dari jaringan listrik nasional pada pukul 22.00 waktu setempat. Proses penarikan batang bahan bakar dari inti reaktor dijadwalkan dimulai dua hari kemudian dan diperkirakan memakan waktu satu hingga dua minggu, menurut pernyataan dari Taiwan Power Co. (Taipower).
Selama masa operasinya sejak 18 Mei 1985, Reaktor Maanshan 2 telah menghasilkan sekitar 274,16 miliar kilowatt-jam listrik, memberikan kontribusi signifikan terhadap pasokan energi nasional.
Meskipun penutupan ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang pemerintah, baru-baru ini parlemen Taiwan meloloskan amandemen undang-undang yang memungkinkan perpanjangan masa operasional reaktor nuklir hingga 60 tahun, dari batas sebelumnya 40 tahun. Namun, Eksekutif Yuan menyatakan tidak ada rencana untuk memperpanjang operasi Reaktor Maanshan 2.
Penutupan PLTN terakhir ini menimbulkan kekhawatiran mengenai ketahanan energi Taiwan, terutama karena negara ini sangat bergantung pada impor energi. Pada tahun 2024, sekitar 83,2% listrik Taiwan berasal dari bahan bakar fosil, dengan 42,4% dari gas alam dan 39,3% dari batu bara, sementara energi terbarukan hanya menyumbang 11,6%.
Sebagai respons terhadap kekhawatiran ini, Taipower berencana menambah kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar gas sebesar hampir 5 juta kilowatt, termasuk di Pembangkit Listrik Datan dan Hsinta, untuk menggantikan kapasitas 950.000 kilowatt yang sebelumnya dihasilkan oleh Reaktor Maanshan 2.
Langkah Taiwan untuk menghentikan penggunaan energi nuklir mencerminkan komitmen terhadap keselamatan dan keberlanjutan lingkungan, meskipun menghadapi tantangan dalam memastikan pasokan energi yang stabil dan ramah lingkungan di masa depan.

