Jakarta – Tanaman mint yang dikenal mudah tumbuh dan menyegarkan, ternyata menyimpan bahaya jika ditanam langsung di kebun. Menurut para ahli, sifat mint yang sangat invasif bisa membuatnya menguasai area kebun secara agresif dan merusak tanaman lain di sekitarnya.
Edwin Dysinger dari Seedtime menjelaskan bahwa begitu tanaman mint mulai menyebar, sangat sulit untuk mengendalikannya tanpa merusak flora lain di dekatnya. Akar mint mampu menjalar luas dan menyerap banyak nutrisi serta air dari tanah.
“Tanaman ini bisa merampas cahaya, air, dan nutrisi dari tanaman lain, hingga akhirnya hanya mint yang bisa tumbuh subur di sana,” jelas Anna Hackman dari The Naked Botanical.
Untuk menyiasatinya, Hackman menyarankan agar mint ditanam dalam bedengan khusus yang terpisah atau dalam pot. Namun, ia menekankan pentingnya untuk tidak mengubur pot langsung ke tanah, karena akar mint bisa menembus celah kecil dan tetap menyebar keluar dari wadah.
Pemangkasan rutin juga diperlukan agar tanaman mint tidak berkembang secara berlebihan. Selain itu, para ahli menyarankan alternatif lain bagi mereka yang menyukai aroma mint namun tidak ingin direpotkan dengan pertumbuhannya. Tanaman seperti lemon balm (daun melissa) dianggap lebih stabil dan tidak mudah menyebar luas.
Lemon balm menghasilkan aroma menyegarkan mirip mint, dan pertumbuhannya relatif terkendali. Meski bisa berbunga dan menghasilkan biji sendiri, penyebarannya tetap dapat dicegah dengan pemangkasan sebelum berbunga.
Mengingat sifat invasifnya, masyarakat yang ingin menanam mint disarankan untuk melakukannya dengan penuh perhatian. Jika tidak, niat menanam tanaman herbal justru bisa berubah menjadi permasalahan lingkungan kecil di halaman rumah.

