Jakarta – Dalam upaya menjaga keberlanjutan tiga ekosistem utama Indonesia—hutan tropis, lahan gambut, dan pesisir—model agroforestri kembali menegaskan keunggulannya. Guru Besar IPB University, Nurheni Wijayanto, menyatakan bahwa agroforestri bukan hanya alat konservasi, tetapi juga solusi adaptif yang mampu meningkatkan ketahanan iklim dan kesejahteraan masyarakat.
Agroforestri menggabungkan tanaman pertanian dengan pohon dalam satu lahan, menciptakan keseimbangan ekologis dan ekonomi. Di kawasan hutan tropis, penerapan sistem seperti kopi dan kakao bawah naungan (shade-grown) terbukti menjaga keanekaragaman hayati serta mencegah erosi tanah.
“Untuk di daerah hutan tropis, model kopi atau kakao dengan pohon pelindung mampu mempertahankan biodiversitas dan menyediakan habitat satwa liar,” jelas Nurheni.
Di lahan gambut, praktik paludikultur seperti penanaman sagu dan jelutung terbukti mencegah kebakaran dan emisi karbon. Sistem lokal seperti beje dan budidaya nanas gambut memperkuat efektivitas tersebut. Sementara di pesisir, silvofishery atau tambak udang dan ikan yang dikombinasikan dengan mangrove terbukti mengurangi abrasi dan menyediakan habitat biota laut.
Nurheni juga menyoroti kemampuan agroforestri dalam mitigasi perubahan iklim. Silvofishery disebut mampu menyerap karbon tiga hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan tropis. Tanaman seperti Samanea saman dan Gliricidia memainkan peran penting dalam penyimpanan karbon melalui biomassa dan tanah.
“Selain itu, agroforestri mengurangi emisi dari pertanian konvensional dengan mengganti pupuk kimia menggunakan pupuk hijau dan mengurangi metana lewat pakan ternak berbasis legum,” tambahnya.
Beberapa studi kasus seperti sistem Repong Damar di Krui, agroforestri karet-rimba di Jambi, dan silvofishery mangrove di Demak menunjukkan dampak konkret. Model-model ini berhasil mempertahankan biodiversitas tinggi, memulihkan tanah terdegradasi, mengurangi abrasi, dan meningkatkan hasil pertanian maupun perikanan.
Namun, keberhasilan agroforestri sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan pemerintah dan keterlibatan aktif masyarakat. Program seperti Perhutanan Sosial, sertifikasi SVLK, serta subsidi bibit dan pembebasan PBB telah memberi dasar kuat. Kearifan lokal dan lembaga masyarakat adat juga memainkan peran vital dalam keberlanjutan program.
“Kunci keberhasilan model-model ini terletak pada pelibatan masyarakat, kemampuan menghasilkan berbagai manfaat dari satu lahan, pendekatan adaptif terhadap kondisi lokal, serta dukungan kebijakan yang tepat,” tutup Nurheni.
Dengan kombinasi pendekatan ilmiah, dukungan kebijakan, dan partisipasi akar rumput, agroforestri menjadi jembatan antara konservasi dan kesejahteraan, menegaskan perannya sebagai model pengelolaan lahan masa depan.

