Jakarta – Lobi megah dan kamar mewah hotel bintang lima di ibu kota kini harus bersaing dengan realita keras: tamu menghilang, tarif pun melorot. Sejumlah hotel premium di Jakarta terpaksa memangkas harga kamar hingga 20% karena lesunya permintaan, terutama dari segmen pemerintah yang selama ini menjadi andalan.
Salah satu hotel ternama di pusat Jakarta yang biasa mematok harga Rp 3,2 juta per malam, kini menjual kamarnya hanya Rp 2,7 juta. Penurunan tarif ini menjadi sinyal keras dari tekanan berat yang tengah dihadapi industri perhotelan elite Jakarta.
“Iya hotel bintang 5 tapi harganya turun ke bintang 4,” ujar seorang karyawan hotel yang enggan disebut namanya, kepada detikcom, Minggu (1/6/2025).
Ia menyebutkan bahwa penurunan ini merupakan imbas dari pengurangan drastis kegiatan pemerintah di hotelnya. Meski saat ini blokir anggaran mulai dibuka, pemulihan masih berjalan lambat dan tidak sebanding dengan jumlah kamar yang tersedia.
“Tapi kan anggaran yang dibuka masih sedikit, sementara supply hotelnya banyak, ya mau nggak mau perang harga,” imbuhnya.
Ketua BPD PHRI Jakarta, Sutrisno Iwantono, menjelaskan berdasarkan survei yang dilakukan pada April 2025, sebanyak 96,7% hotel di Jakarta melaporkan penurunan tingkat hunian. Sebanyak 66,7% dari mereka menyebut segmen pasar pemerintah sebagai penyebab utama anjloknya okupansi.
Penurunan ini tidak hanya berdampak pada tarif kamar, tetapi juga mendorong pengelola hotel melakukan efisiensi operasional dan pengurangan tenaga kerja. Bahkan, beberapa telah dijual oleh pemiliknya karena tak mampu menahan beban finansial.
Pantauan di sejumlah situs properti menunjukkan hotel-hotel dijual dengan harga miring. Sebuah hotel di kawasan Cideng, Jakarta Pusat misalnya, dilego seharga Rp 60 miliar—hanya separuh dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang mencapai Rp 119 miliar. Hal serupa terjadi di Jakarta Selatan, di mana hanya dijual Rp 700 miliar, jauh di bawah nilai pasar.
Situasi ini menggambarkan betapa berat tekanan yang dihadapi industri perhotelan Jakarta. Dengan tingginya pasokan kamar dan rendahnya permintaan dari pemerintah maupun wisatawan, banyak hotel kini menggantungkan harapan pada kebangkitan sektor swasta atau pembukaan penuh aktivitas pemerintah.

