Sydney – Dalam ruangan bersuhu ekstrem di Kebun Binatang Taronga, Australia, barisan tangki nitrogen cair kini menyimpan ‘harta karun’ biologis dari lautan: triliunan sel karang dari The Great Barrier Reef. Ini bukan sekadar eksperimen ilmiah, tapi langkah dramatis untuk menghentikan waktu bagi ekosistem laut terbesar di dunia yang kini terancam.
Menurut laporan Science Alert, upaya konservasi ini dilakukan karena para ilmuwan khawatir akan punahnya keanekaragaman hayati yang luar biasa dari The Great Barrier Reef. Terumbu karang raksasa ini merupakan rumah bagi lebih dari 400 jenis karang keras, 1.500 spesies ikan, dan 4.000 tipe moluska—semuanya terancam oleh pemanasan global, polusi, dan penangkapan ikan berlebih.
“Pada dasarnya, tombol jeda telah ditekan pada jam biologis mereka,” ungkap Justine O’Brien, kepala ilmuwan konservasi dari Taronga Conservation Society Australia.
Justine menjelaskan, pembekuan ini memungkinkan karang tetap hidup dalam kondisi tidur biologis, yang bisa dicairkan bahkan setelah ratusan tahun. Prosesnya melibatkan krioprotektan yang mengeluarkan air dari sel sebelum dibekukan pada suhu -196 derajat Celsius. Langkah ini pertama kali dilakukan sejak tahun 2011 dan kini telah mengamankan 34 spesies karang utama.
Bank CryoDiversity Taronga bukan hanya menyimpan karang untuk regenerasi, tapi juga untuk riset jangka panjang. Data dari sampel ini digunakan untuk menilai dampak perubahan iklim, pencemaran laut, dan aktivitas manusia terhadap kehidupan laut.
Kondisi ini menjadi semakin mendesak seiring dengan pemanasan global yang terus meningkat. Ilmuwan memprediksi bahwa jika suhu bumi naik 1,5 derajat Celsius, maka hingga 90 persen terumbu karang dunia bisa punah. Proses pemutihan global sudah terjadi sejak 2023 dan kini berdampak pada 84 persen terumbu karang dunia.
Meskipun The Great Barrier Reef dikenal tangguh, Justine memperingatkan bahwa tekanan lingkungan yang terus-menerus membuat terumbu tidak punya cukup waktu untuk pulih.
“Tentu saja ada peluang untuk menyelamatkan terumbu karang dari perubahan iklim, tapi waktu kita semakin sempit,” ujarnya menutup pernyataan.
Langkah pembekuan ini menjadi harapan terakhir untuk melestarikan kehidupan laut yang menjadi paru-paru samudra dan penyangga kehidupan jutaan makhluk.

