Bandung – Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, dua pasar tradisional di Jawa Barat menghadirkan napas segar dengan konsep jadul yang memikat. Pasar Padaringan di Bandung dan Pasar Awi Campernik di Cimahi mengusung nuansa pasar tradisional Sunda tempo dulu, lengkap dengan suasana hutan bambu yang adem dan sistem transaksi unik menggunakan koin bambu.
Pasar-pasar ini hanya buka dua kali dalam sebulan, yakni pada Minggu pertama dan ketiga, menjadikannya agenda yang dinantikan oleh warga lokal maupun wisatawan dari luar kota. Mulai pukul 07.00 pagi, pengunjung sudah bisa menikmati aneka kudapan khas seperti surabi oncom, es goyobod, awug, leupeut, hingga bandrek, semua tanpa bahan pengawet maupun pewarna sintetis.
“Cocok buat healing sambil kulineran. Tempatnya unik banget di tengah hutan bambu yang sejuk dan adem,” tulis Raditya Fadilah, salah satu pengunjung, dalam ulasan Google.
Uniknya, kedua pasar tidak menggunakan sistem pembayaran tunai langsung. Pengunjung menukar uang rupiah menjadi koin bambu yang disebut pernik atau sen. Nilainya berkisar Rp 5.000 hingga Rp 20.000. Sistem ini tidak hanya menambah pengalaman autentik, tetapi juga membantu menjaga kebersihan dan keteraturan transaksi.
Pasar Padaringan berlokasi di Bukit Mbah Garut, Cibiru, Bandung, sedangkan Pasar Campernik berada di kawasan Cipageran, Cimahi. Kedua lokasi berada di tengah kawasan hijau yang alami dan cocok untuk relaksasi keluarga. Selain berbelanja, pengunjung juga diajak berkontribusi menjaga lingkungan melalui kemasan makanan ramah lingkungan dan sistem pembuangan sampah yang tertata.
Menurut Ari Irawan, Ketua Pokdarwis Cisurupan, ini bukan sekadar destinasi wisata, tapi juga penggerak ekonomi lokal.
“Ke depannya, efek pasar ini sangat luar biasa untuk meningkatkan perekonomian dan pengenalan seni budaya,” ucapnya.
Antusiasme pengunjung yang terus meningkat bahkan mendorong wacana penambahan hari operasional. Meski begitu, pengunjung diimbau untuk selalu memantau informasi terbaru melalui media sosial agar tidak salah jadwal. Mereka juga diingatkan untuk menjaga kebersihan area dan tidak membawa pulang koin bambu sebagai kenang-kenangan.
Dengan perpaduan budaya, ekonomi lokal, dan kesadaran lingkungan, dua pasar ini berhasil merebut hati para pencinta wisata otentik dan menjadi contoh pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal di Jawa Barat.

