Jakarta – Dunia tengah berdebar menanti kemungkinan terburuk. Di tengah ketegangan geopolitik yang semakin panas, Indonesia justru disebut sebagai salah satu dari sepuluh negara teraman jika Perang Dunia III benar-benar pecah. Klaim ini datang dari Profesor Brian Toon, pakar atmosfer dan iklim, yang menyusun daftar berdasarkan potensi dampak nuklir dan kemampuan bertahan hidup.
Dalam daftar yang ia ungkapkan, Indonesia berada bersama negara-negara seperti Selandia Baru, Islandia, dan Argentina. Negara-negara ini dinilai memiliki kemungkinan lebih kecil terkena dampak langsung karena posisinya yang relatif jauh dari pusat konflik global dan kebijakan luar negeri yang cenderung netral. Indonesia, dengan prinsip bebas aktif yang diwariskan sejak era Presiden Soekarno, tetap menjaga jarak dari blok-blok kekuatan dunia.
“Sebagian besar wilayah dunia akan tertutup es akibat dampak nuklir yang ekstrem. Namun negara-negara tropis seperti Indonesia relatif lebih aman dari gangguan iklim dan bisa mempertahankan sektor pertanian,” kata Brian Toon, seperti dikutip dari Express.
Namun demikian, keamanan secara fisik bukan jaminan kondisi ekonomi akan ikut selamat. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, justru menilai ekonomi Indonesia masih rentan terhadap dampak konflik global berskala besar. Ketergantungan tinggi terhadap sumber daya alam dan tantangan birokrasi membuat Indonesia belum siap menghadapi peluang maupun ancaman yang mungkin timbul.
“Ketahanan fiskal kita belum kokoh. Struktur pemerintahan yang gemuk memperlambat pengambilan keputusan penting. Ini bisa jadi penghambat masuknya investasi asing,” ujar Bhima saat dihubungi pada Senin (23/6/2025).
Menurutnya, konflik global bisa mendatangkan limpahan investor asing yang mencari lokasi aman. Namun potensi tersebut bisa terbuang percuma akibat tingginya biaya logistik, suku bunga kredit, dan persoalan regulasi yang belum ramah investasi.
Indonesia juga akan terdampak oleh fluktuasi harga minyak global yang dipicu konflik. Dengan harga diperkirakan tembus USD 83 per barel dalam waktu dekat, tekanan terhadap neraca perdagangan bisa meningkat, mengingat ketergantungan pada impor energi masih tinggi.
Di sisi lain, Bhima menyarankan agar Indonesia mempertahankan posisi non-blok sebagai kekuatan diplomatik utama. “Indonesia harus tetap netral dan menjadi middle power untuk menjaga stabilitas serta menghindari musuh eksternal,” tambahnya.
Meski memiliki posisi strategis dalam konflik global, kesiapan internal menjadi kunci bagi Indonesia untuk tetap bertahan dan memanfaatkan situasi secara bijak. Perdamaian tetap menjadi pilihan terbaik, tapi kesiapan menghadapi segala skenario tetaplah penting.

