Tel Aviv – Setelah 12 hari perang terbuka dengan Iran, Israel kini mengalihkan kembali fokus militernya ke Jalur Gaza. Gencatan senjata yang disepakati pada Selasa (24/6/2025) membuka ruang bagi Israel untuk melanjutkan operasi terhadap Hamas, kelompok bersenjata yang didukung Teheran dan masih menyandera warganya.
Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, menyatakan bahwa prioritas utama pascagencatan senjata adalah memulangkan semua sandera yang tersisa dan membubarkan sepenuhnya kekuasaan Hamas di Gaza. “Saya bangga memiliki hak istimewa untuk memimpin organisasi ini selama periode ini,” ungkapnya dalam pernyataan resmi.
Gencatan senjata antara Israel dan Iran diumumkan sehari sebelumnya, setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan tak terduga yang menghentikan serangan udara antara kedua negara. Namun, Eyal Zamir juga mengklaim bahwa selama konflik dengan Iran, militer Israel berhasil merusak program nuklir dan rudal negara itu secara signifikan.
Sementara itu, konflik antara Israel dan Hamas yang dimulai sejak Oktober 2023 terus menimbulkan korban jiwa yang besar. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa lebih dari 56.000 orang tewas akibat agresi militer Israel, sebagian besar adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
“Fokus militer saat ini beralih kembali ke Gaza — untuk memulangkan para sandera dan membubarkan rezim Hamas,” kata Zamir, menegaskan arah baru operasi militer Israel.
Situasi di Jalur Gaza kembali memanas, di tengah kritik internasional terhadap dampak kemanusiaan dari konflik yang berkepanjangan. Pemerintah Israel menegaskan bahwa operasi di Gaza merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keamanan nasional dari ancaman kelompok bersenjata.
Kawasan Timur Tengah kini kembali berada dalam ketegangan, dengan kemungkinan eskalasi lebih lanjut di Gaza pascagencatan senjata dengan Iran. Komunitas internasional menyerukan deeskalasi dan perlindungan terhadap warga sipil yang terdampak konflik.

