Jakarta – Sebuah studi terbaru dari Universitas MacEwan, Kanada, mengungkap bahwa kebiasaan ngemil malam hari, khususnya mengonsumsi makanan tertentu seperti susu dan keju, bisa berujung pada gangguan tidur dan mimpi buruk. Temuan ini memantik diskusi baru tentang kaitan antara pola makan dan kualitas tidur.
Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Emeritus Russ Powell ini melibatkan lebih dari 1.000 mahasiswa. Hasilnya, mereka yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi makanan tertentu, cenderung mengalami mimpi buruk lebih sering dan tidur yang tidak nyenyak.
Salah satu temuan menarik adalah bahwa konsumsi keju sebelum tidur dapat menyebabkan seseorang terbangun tiba-tiba, sering kali dalam kondisi berkeringat pada pukul tiga dini hari. “Semua ini berkaitan dengan gangguan gastrointestinal. Jika tubuh Anda bermasalah dengan susu saat terjaga, maka saat tidur bisa berdampak pada siklus REM,” tulis tim peneliti.
Menurut Powell, ini bukan kali pertama pola makan larut malam dikaitkan dengan mimpi buruk. Sepuluh tahun lalu, ia juga menemukan bahwa sekitar 20 persen orang mengaitkan mimpi aneh dengan konsumsi makanan larut malam, terutama susu. Dalam studi terbarunya, meski hanya 5,5 persen responden yang secara langsung menyalahkan makanan atas isi mimpi mereka, jenis makanan seperti susu, makanan pedas, dan permen sering disebut sebagai pemicu.
Para peneliti menekankan bahwa teori ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya tentang bagaimana nyeri seperti kram menstruasi bisa memperparah kualitas mimpi. “Sensasi fisik yang tidak nyaman saat tidur bisa merembes ke dalam mimpi kita, menciptakan narasi mimpi yang mengganggu,” jelas Powell.
Studi ini membuka wacana baru dalam kebiasaan tidur sehat. Meski demikian, para ilmuwan menegaskan perlunya riset lanjutan untuk memastikan korelasi antara jenis makanan tertentu dengan gangguan mimpi. Untuk sementara, bagi mereka yang rentan terhadap mimpi buruk, menghindari makanan pemicu bisa menjadi langkah awal yang bijak.

