Solo – Di tengah suasana duka yang menyelimuti Tanah Jawa, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap menjaga denyut kebudayaan. Meski tengah memasuki masa berkabung atas wafatnya Kanjeng Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII, pihak Keraton memastikan aktivitas wisata tetap berjalan dengan sejumlah penyesuaian.
Putra tertua mendiang PB XIII, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi, menegaskan bahwa Museum Keraton tidak ditutup total. Namun, sebagian area akan dibatasi agar suasana khidmat masa berkabung tetap terjaga.
“Kalau museumnya tidak sampai tutup selama 40 hari, karena kita sedang melakukan konservasi untuk merawat artefak-artefak peninggalan yang ada di situ,” ujar Hangabehi saat ditemui di kawasan Manahan, Jumat (7/11/2025).
Ia menjelaskan, keputusan tersebut mempertimbangkan aturan pelestarian cagar budaya. Menurutnya, penutupan total justru dapat menghambat kegiatan konservasi yang sedang berlangsung. “Saya kira kurang bijak kalau ditutup, karena kita harus mengejar ketentuan yang sudah ditentukan oleh cagar budaya,” jelasnya.
Meskipun tetap terbuka, wisatawan hanya diperbolehkan mengunjungi area tertentu. Pembatasan dilakukan agar tidak mengganggu prosesi internal keluarga Keraton. “Akan kita lanjut dengan ketentuan pembatasan sedikit area untuk wisatawan saja. Mungkin tidak terlalu menjorok ke dalam,” ujar Hangabehi menambahkan.
Untuk menjaga ketertiban, para abdi dalem pemandu wisata akan mengarahkan pengunjung agar tetap menghormati suasana berkabung. “Nanti akan kita arahkan abdi dalem, abdi guide ini untuk memberikan sedikit kelonggaran pada wisatawan dengan mengarahkan ke tempat lain,” tuturnya.
Hangabehi juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung keberlanjutan Keraton sebagai pusat pelestarian budaya Jawa. “Harapan saya masyarakat tetap men-support Keraton supaya bisa menjadi tonggak budaya dan adat. Kami terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar tentang budaya, tari, atau literasi Keraton,” katanya.
Seperti filosofi Jawa “urip iku urup” — hidup itu harus memberi cahaya — Keraton Solo berupaya menyalakan obor kebudayaan di tengah duka. Tradisi dan pariwisata berjalan berdampingan, menjaga warisan leluhur agar tetap menyala untuk generasi mendatang.

