Jakarta – Seperti riak ombak yang saling berkejaran di perairan Nusantara, dinamika persaingan sistem pembayaran kembali memanas. Pemangkasan biaya gesek (merchant discount rate/MDR) oleh Visa dan Mastercard di Amerika Serikat kini menjadi sorotan pelaku industri dalam negeri, terutama ketika Indonesia sedang menyaksikan pertumbuhan pesat QRIS yang kian memadatkan jalur transaksi ritel dan UMKM.
Langkah kedua raksasa itu dianggap sebagai respons global atas tekanan biaya, namun di Indonesia justru menonjolkan jurang perbedaan model bisnis antara kartu kredit internasional dan pembayaran berbasis kode QR.
Kesepakatan pemangkasan tarif gesek tersebut diumumkan pada Senin (10/11/2025), menutup perselisihan hukum hampir 20 tahun antara para pedagang AS dan jaringan pembayaran internasional. Visa dan Mastercard setuju memangkas biaya transaksi rata-rata 0,1 poin persentase untuk lima tahun mendatang serta membatasi tarif maksimum pada 1,25 persen dalam delapan tahun ke depan. Di sisi lain, QRIS di Indonesia sejak awal menawarkan struktur biaya datar yang lebih rendah, terutama bagi UMKM, sehingga menjadi pembanding langsung yang menekan daya tarik kartu kredit asing di transaksi ritel domestik.
“Kesepakatan ini memberikan ruang lebih luas bagi pedagang dari berbagai skala untuk mengatur struktur biaya mereka,” ujar perwakilan Visa dalam keterangan tertulis.
Mastercard kemudian menegaskan bahwa penurunan tarif tersebut diharapkan meringankan biaya operasional pedagang kecil, sebuah pernyataan yang turut menghidupkan perbandingan dengan ekosistem QRIS, di mana transaksi tanpa switching internasional memungkinkan biaya jauh lebih efisien.
Kesepakatan pemangkasan biaya lahir setelah proposal senilai 30 miliar dolar AS ditolak hakim pada Juni 2024 karena dianggap tidak cukup signifikan. Dua ekonom, Joseph Stiglitz dan Keith Leffler, bahkan memprediksi perubahan struktur biaya ini dapat menghemat hingga 38 miliar dolar AS pada 2031 serta mendorong efisiensi ratusan miliar dolar lainnya. Namun di Indonesia, pertumbuhan QRIS yang sudah menembus puluhan juta merchant menambah tekanan kompetitif bagi jaringan kartu kredit yang bergantung pada struktur biaya lebih tinggi.
Electronic Payments Coalition menyambut positif keputusan Visa–Mastercard, namun kelompok ritel seperti National Retail Federation masih menilai beban biaya tetap menekan, khususnya untuk transaksi kartu hadiah. Di Indonesia sendiri, para analis memandang bahwa tren pemangkasan tarif global dapat mempercepat adopsi QRIS sebagai metode dominan, mengingat efisiensi biaya menjadi kunci keberlanjutan usaha kecil dan menengah.
Pada akhirnya, dunia usaha kini berada di persimpangan pilihan: model pembayaran global yang mencoba menyesuaikan diri atau sistem nasional seperti QRIS yang menawarkan kesederhanaan, kecepatan, dan biaya rendah. Dalam lanskap yang terus bergerak, persaingan ini ibarat adu perahu di sungai Nusantara—siapa yang paling ringan bebannya, dialah yang melaju paling jauh.

