Close Menu
Kenai.idKenai.id
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Senin 16 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kenai.idKenai.id
    • Berita
    • Nusantara
    • Lifestyle
    • Artikel
    • Promosi
    Kenai.idKenai.id
    Beranda » DPR Dorong Program Sekolah Ramah Mental Tanggapi Kasus Bullying
    Nasional

    DPR Dorong Program Sekolah Ramah Mental Tanggapi Kasus Bullying

    Gelombang perundungan yang terus muncul membuat dunia pendidikan seakan kehilangan teduh; sebuah isyarat bahwa sekolah perlu kembali menjadi rumah belajar yang menenangkan.
    By Ericka17 November 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani,
    Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani (.inet)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Di tengah meningkatnya laporan bullying yang menghantui sekolah-sekolah, DPR mendorong lahirnya gerakan nasional “Sekolah Ramah Mental” sebagai langkah pemulihan. Gagasan ini muncul setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mewajibkan seluruh guru menjalankan fungsi bimbingan konseling (BK), sebuah kebijakan yang dinilai maju tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan kesehatan mental pelajar.

    Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menilai aturan tersebut harus benar-benar dipadukan dengan kehadiran psikolog profesional di sekolah. Tanpa unsur itu, menurutnya, kebijakan berpotensi menjadi sekadar administrasi tambahan bagi guru, bukan solusi konkret bagi kondisi emosional siswa.

    “Kebijakan ini langkah maju dalam memperkuat pendidikan karakter dan kesejahteraan emosional siswa. Apalagi sekarang marak kasus bullying di sekolah,” ujar Lalu Ari dalam keterangan di Jakarta, Senin (17/11/2025).

    Ia menegaskan bahwa pendampingan psikologis mendalam memerlukan kompetensi profesional yang tidak dapat digantikan oleh guru. Bahkan di sejumlah negara, rasio idealnya adalah satu psikolog untuk setiap 250 siswa, standar yang hingga kini masih jauh dari praktik pendidikan Indonesia.

    “Guru memang harus membentuk karakter siswa, tetapi bimbingan konseling bukan tugas yang bisa dijalankan tanpa bekal psikologis. Karena itu negara harus memastikan bahwa setiap sekolah memiliki psikolog atau konselor tetap,” tuturnya.

    Menurutnya, sinergi antara guru dan psikolog adalah pondasi sekolah ideal. Tanpanya, sekolah berpotensi menjadi sumber tekanan, bukan ruang pertumbuhan. Ia juga menekankan bahwa ruang BK seharusnya menjadi tempat aman yang mendorong penguatan mental serta pemulihan bagi siswa.

    Lebih jauh, Lalu Ari menyoroti meningkatnya kasus perundungan dan angka bunuh diri di kalangan pelajar sebagai tanda bahaya serius yang perlu ditangani dengan pendekatan sistemik. Ia mendesak pemerintah memimpin gerakan besar untuk menciptakan “Sekolah Ramah Mental”, yang mencakup sistem pencegahan bullying, layanan kesehatan jiwa, serta unit psikososial terintegrasi di setiap sekolah.

    Ia menambahkan bahwa guru perlu mendapatkan pelatihan dasar psikologi anak sebagai deteksi dini, sementara kehadiran psikolog profesional menjadi tulang punggung pendampingan.

    Dengan dorongan ini, DPR berharap sekolah kembali menjadi ruang yang meneduhkan, sebagaimana filosofi pendidikan Nusantara: tempat anak dibesarkan dengan rasa aman, didampingi, dan dihargai sebagai individu yang tumbuh.

    Bullying Kesehatan Mental Pelajar Komisi X DPR Pendidikan Indonesia Sekolah Ramah Mental
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ericka

    Related Posts

    Prabowo Hapus Utang KUR Petani Korban Banjir Aceh

    7 Desember 2025

    Kontingen Indonesia Resmi Dikukuhkan untuk SEA Games 2025

    5 Desember 2025

    MoU Kemensos–Diktisaintek Buka Jalan Kampus bagi Siswa Sekolah Rakyat

    2 Desember 2025

    Comments are closed.

    © 2026 Kenai.id by Dexpert, Inc.
    PT Sciedex Multi Press
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.