Jakarta – Seperti memilih hidangan di meja berbuka yang penuh godaan warna dan aroma, masyarakat diingatkan untuk tidak sekadar mengikuti selera. Di balik manisnya takjil, ada kewaspadaan yang perlu dijaga agar kesehatan tetap terpelihara selama Ramadhan.
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jakarta mengimbau masyarakat agar lebih selektif dalam memilih takjil. Kepala BBPOM Jakarta, Sofiyani Chandrawati, menyarankan agar masyarakat mengutamakan makanan yang segar, tersimpan dalam kondisi tertutup, serta tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan seperti bau asam atau menyengat. Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk menghindari makanan dengan warna terlalu mencolok yang berpotensi mengandung bahan berbahaya.
“Pastikan takjil tidak berbau asam, apek, atau menyengat, serta pilih penjual yang menjaga kebersihan diri dan lingkungannya,” ujar Sofiyani, Minggu (22/02/2026).
Pengawasan terhadap pangan takjil juga terus diperketat selama bulan Ramadhan. BBPOM Jakarta secara rutin melakukan inspeksi di berbagai sentra penjualan makanan, termasuk pasar tradisional dan ritel modern. Berdasarkan hasil pengawasan tahun 2025, dari 147 sampel takjil yang diuji, sebanyak 141 sampel dinyatakan memenuhi syarat, sementara enam lainnya tidak layak konsumsi.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar takjil yang beredar relatif aman, namun tetap ada potensi risiko yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak lengah dalam memilih makanan berbuka. Lokasi pengawasan sebelumnya mencakup berbagai titik strategis seperti pasar dan pusat perbelanjaan di Jakarta.
Selain pengawasan takjil, BBPOM juga telah melakukan pemeriksaan terhadap makanan olahan sejak sebelum Ramadhan. Langkah ini bertujuan memastikan keamanan pangan di seluruh rantai distribusi, mulai dari produsen hingga konsumen.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam melindungi masyarakat dari potensi bahaya pangan, terutama di momen Ramadhan yang identik dengan peningkatan konsumsi makanan siap saji. Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan pangan secara menyeluruh.
Sebagaimana tradisi berbuka yang sarat makna kebersamaan, memilih takjil bukan hanya soal rasa, tetapi juga bentuk ikhtiar menjaga kesehatan diri dan keluarga di tengah keberkahan bulan suci.

