Sangkulirang – Seperti perahu kecil yang ingin berlayar jauh namun terhalang ombak, begitulah nasib pariwisata Kutai Timur yang terus memikat mata tetapi tersendat oleh infrastruktur jalan yang tertinggal. Dorongan kuat datang dari legislator daerah agar akses menuju berbagai destinasi dimasukkan ke dalam program multiyears contract (MYC) agar pesona Kutim tak hanya jadi cerita, tetapi benar-benar digapai wisatawan.
Shabaruddin, anggota DPRD Kutai Timur dari Dapil 5, menegaskan bahwa potensi wisata di pesisir maupun pedalaman Kutim telah lama menjadi daya tarik besar. Namun, ia menilai pembangunan akses jalan tak kunjung memadai sehingga banyak lokasi unggulan tidak berkembang maksimal. Beragam titik wisata, mulai Pula Miang, pesisir Pantai Sekrat hingga Pantai Maran masih sulit dijangkau akibat buruknya kondisi jalan. Pernyataan itu ia sampaikan pada Jumat (14/11/2025) malam.
“Kita butuh jalan beton yang layak. Wisatawan sering mengeluh lelah karena kondisi jalan, bukan karena jauhnya perjalanan,” ujarnya dalam kesempatan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa kawasan pesisir Kutai Timur seharusnya mudah didatangi wisatawan, mengingat keindahan alamnya telah dikenal luas. Tetapi kenyataannya, akses yang rusak justru membuat promosi wisata seperti berjalan di tempat. Menurutnya, pemerintah daerah perlu memastikan pembangunan infrastruktur tidak hanya berhenti pada wacana.
Potensi wisata di pedalaman juga disebut sangat besar. Shabaruddin mencontohkan Gua Kombeng, gugusan tebing karst, hingga air terjun yang dapat dikembangkan lebih agresif jika aksesnya ditingkatkan. Ia menilai perbaikan jalan akan memicu pergerakan ekonomi, terutama UMKM dan transportasi wisata.
“Begitu akses dibangun, roda ekonomi UMKM dan usaha lokal akan ikut bergerak,” tambahnya.
Politisi dari Fraksi Gelora Amanat Perjuangan itu turut menyoroti efektivitas studi banding yang dilakukan Dinas Pariwisata ke berbagai daerah. Ia menilai kunjungan kerja harus memberi bukti nyata, bukan sekadar menambah daftar perjalanan. Ia menegaskan bahwa pariwisata memiliki kontribusi besar terhadap PAD Kutim sehingga hasil studi seharusnya benar-benar diterapkan.
“Kutim ini luas. Semua wilayah punya potensi. Jangan sampai yang maju hanya satu bagian saja,” sambungnya.
Karena itu, Shabaruddin meminta pembangunan akses wisata dicantumkan secara tegas dalam program MYC, terlebih sektor pariwisata menjadi bagian dari 50 program unggulan Bupati dan Wakil Bupati Kutai Timur periode 2025–2030. Ia menekankan bahwa pembangunan jalan menuju destinasi harus menjadi prioritas agar dampaknya besar dan berkelanjutan.
“Kalau ingin dampaknya besar dan berkelanjutan, infrastruktur menuju destinasi wisata harus menjadi prioritas utama,” tutupnya.

