Jakarta – Krisis iklim tampaknya akan menjadi kenyataan pahit bagi anak-anak yang lahir pada tahun 2020. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature oleh ilmuwan iklim Kanada, Luke Grant, mengungkap bahwa generasi ini berpotensi menghadapi kondisi iklim ekstrem yang hingga tujuh kali lebih parah dibandingkan generasi yang lahir tahun 1960.
Grant dan tim dari Pusat Pemodelan dan Analisis Iklim Kanada memprediksi bahwa tanpa intervensi nyata, suhu global dapat meningkat hingga 4,9 derajat Fahrenheit pada tahun 2100. Peningkatan ini jauh melampaui target Perjanjian Paris yang hanya membatasi kenaikan suhu hingga 2,7 derajat Fahrenheit.
“Dengan menstabilkan iklim kita sekitar 1,5°C di atas suhu pra-industri, sekitar setengah dari generasi muda saat ini akan terpapar gelombang panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hidup mereka,” jelas Grant dalam kutipannya dari Live Science.
Peneliti menyebutkan bahwa dalam skenario pemanasan 3,5°C, lebih dari 90% anak-anak kelahiran 2020 akan menghadapi gelombang panas mematikan sepanjang hidup mereka. Selain itu, mereka juga menghadapi risiko 29% mengalami gagal panen dan 14% terpapar banjir besar.
Kondisi ini menjadi bukti ketimpangan antargenerasi. Generasi 1960 hanya 16% yang pernah mengalami gelombang panas ekstrem, sementara generasi 2020 terancam menghadapi beberapa kejadian iklim ekstrem dalam satu masa hidup.
“Bahkan tanpa perubahan iklim, peluang seseorang untuk mengalami banyak peristiwa iklim ekstrem hanya 1 banding 10.000,” ungkap Grant.
Lebih lanjut, studi ini menggabungkan model dengan data demografi dan harapan hidup untuk memproyeksikan dampak di masa depan. Wilayah paling rentan termasuk Asia Timur, Amerika Selatan, Amerika Serikat, dan Afrika Sub-Sahara. Anak-anak di wilayah tropis disebut sebagai yang paling rentan secara ekonomi.
Temuan ini juga diperkuat survei yang dilakukan Greenpeace dan YouGov, di mana empat dari lima anak di bawah usia 12 tahun mengaku khawatir terhadap perubahan iklim. Kekhawatiran ini mencakup bencana seperti badai, kebakaran hutan, banjir, dan kepunahan spesies.
Dengan fakta-fakta ini, Grant mendesak upaya global untuk mempercepat pengurangan emisi dan penguatan kebijakan lingkungan, demi melindungi generasi mendatang dari krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

