Washington DC – Keputusan Amerika Serikat untuk mencabut pembatasan ekspor perangkat lunak desain chip ke China menjadi titik balik signifikan dalam hubungan dagang teknologi kedua negara. Kebijakan ini diumumkan pada Kamis (3/7/2025) secara terpisah oleh tiga raksasa semikonduktor: Siemens AG, Synopsys, dan Cadence.
Langkah ini menandai pelonggaran kontrol ekspor yang sebelumnya diberlakukan pada teknologi canggih, terutama prosesor kecerdasan buatan (AI). Dalam pernyataan resmi, ketiga perusahaan menyebut bahwa mereka telah menerima pemberitahuan langsung dari Departemen Perdagangan AS mengenai pencabutan larangan tersebut.
Perusahaan Siemens AG menyampaikan bahwa unit bisnis desain chip-nya, Siemens EDA yang berbasis di Oregon, kini telah memulihkan akses penuh terhadap teknologi yang sebelumnya dibatasi. Mereka juga melanjutkan penjualan serta dukungan teknis ke pelanggan di China. Synopsys dan Cadence mengambil langkah serupa, berupaya mengaktifkan kembali seluruh operasional mereka di pasar Tiongkok.
Sebelumnya, pada 23 Mei 2025, pemerintah AS mewajibkan lisensi ekspor bagi semua perusahaan software desain chip yang hendak menjual produk ke China. Kebijakan tersebut bagian dari kontrol ekspor yang lebih luas, termasuk larangan ekspor chip AI dari Nvidia dan AMD.
Namun, hubungan bilateral yang mulai mencair mendorong perubahan ini. China sendiri telah menyatakan komitmennya untuk melanjutkan pertukaran teknologi dan bahan langka (rare earth) secara terbatas, sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan dagang.
Keputusan AS disambut positif oleh pasar. Harga saham Synopsys dan Cadence tercatat naik masing-masing lebih dari 6 persen dan 7 persen dalam perdagangan semalam di platform Robinhood. Ketiga perusahaan ini mendominasi industri electronic design automation (EDA), sektor vital dalam perancangan chip dan komponen semikonduktor global.
CEO Synopsys, Sassine Ghazi, sebelumnya mengungkapkan adanya perlambatan di pasar China akibat pembatasan ini. Padahal, China menyumbang sekitar 10 persen dari pendapatan kuartalan perusahaan sebesar USD 1,6 miliar pada kuartal kedua fiskal yang berakhir 30 April 2025.
Meski demikian, pengamat memperkirakan ketegangan teknologi AS-China belum sepenuhnya berakhir. Arah kebijakan ke depan dinilai masih sangat dipengaruhi oleh faktor politik dan keamanan kedua negara.

