Close Menu
Kenai.idKenai.id
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Jumat 20 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kenai.idKenai.id
    • Berita
    • Nusantara
    • Lifestyle
    • Artikel
    • Promosi
    Kenai.idKenai.id
    Beranda » Bahan Bakar Minyak RI Terancam Tipis jika Perang Dunia Pecah
    Ekonomi

    Bahan Bakar Minyak RI Terancam Tipis jika Perang Dunia Pecah

    By Richard23 Juni 2025Updated:23 Juni 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ilustrasi stok bahan bakar minyak ri yang mulai menipis (.inet)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran yang meruncing pasca-serangan udara memicu kecemasan global akan pecahnya Perang Dunia ketiga. Namun, bagi Indonesia, mimpi buruk bisa datang lebih cepat dalam bentuk krisis energi: kehabisan minyak dan bahan bakar minyak (BBM).

    Sebagai negara net importir minyak, Indonesia amat bergantung pada pasokan dari luar negeri. Situasi menjadi genting karena nyaris 20% minyak global dan sebagian besar LNG dunia melewati Selat Hormuz—jalur vital yang kini diambang penutupan oleh Iran.

    “Kita hanya punya stok BBM operasional untuk 19–29 hari. Tidak ada cadangan strategis nasional yang disiapkan,” ungkap anggota Komite BPH Migas, Saleh Abdurrahman, Senin (23/6/2025). Ia menyebut, per 16 Juni 2025, stok Pertamax tersedia untuk 29 hari, Pertalite 21 hari, dan Solar hanya cukup untuk 19 hari.

    Jika distribusi minyak global terganggu, Indonesia bisa menghadapi kekurangan pasokan serius. Bahkan, harga BBM dalam negeri juga terancam melonjak tajam. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran setelah serangan AS terhadap tiga fasilitas nuklirnya telah mendorong harga minyak dunia naik tajam.

    Menurut data Refinitiv, harga Brent sudah menyentuh US$ 79,08 per barel, naik 2,69% hanya dalam satu hari. Sementara itu, WTI juga menguat ke US$ 75,85 per barel. Goldman Sachs bahkan memproyeksikan harga bisa menembus US$ 100 jika selat tetap ditutup dalam waktu lama.

    Putra Adhiguna, analis energi dari IEEFA, menegaskan bahwa krisis seperti ini akan memperberat beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena subsidi BBM dan LPG bisa membengkak drastis.

    “Ini menegaskan pentingnya mempercepat elektrifikasi dan membangun cadangan energi nasional yang kuat. Ketergantungan kita pada impor BBM terlalu tinggi,” ujarnya.

    Berdasarkan data BPS, Indonesia mengimpor minyak dan gas senilai US$ 36,27 miliar pada 2024. Dari jumlah itu, BBM menyumbang lebih dari dua pertiga, yakni US$ 25,92 miliar. Ketergantungan ini membuat perekonomian nasional rentan terguncang bila pasokan terganggu atau harga melambung.

    Selain upaya jangka panjang seperti transisi ke kendaraan listrik dan substitusi LPG rumah tangga, pemerintah dinilai harus segera menyusun mekanisme Cadangan Penyangga Energi (CPE) untuk memastikan ketahanan energi dalam situasi darurat.

    Tanpa langkah konkret, Indonesia bisa saja tergagap jika krisis geopolitik berubah menjadi konflik global. Ancaman kehabisan BBM bukan lagi skenario fiksi, melainkan risiko nyata yang mengintai dalam waktu dekat.

    BBM Indonesia Harga Minyak Dunia Krisis Energi Net Importir Minyak Selat Hormuz
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Richard

    Related Posts

    Indonesia Butuh 757,6 M Dolar AS untuk Pendanaan Iklim Hingga 2035

    2 Desember 2025

    BPS Ingatkan Risiko Gagal Panen akibat Banjir dan Longsor di Sumatra

    1 Desember 2025

    Surplus Dagang Indonesia Capai USD 2,39 Miliar pada Oktober 2025

    1 Desember 2025

    Comments are closed.

    © 2026 Kenai.id by Dexpert, Inc.
    PT Sciedex Multi Press
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.