“Kebudayaan akan punah jika bahasanya menghilang dari bibir dan hati anak-anaknya.”
Identitas bangsa adalah warisan tak ternilai yang diwariskan melalui bahasa. Namun ironisnya, di negeri dengan lebih dari 700 bahasa daerah ini, suara-suara leluhur kita semakin lirih terdengar, bahkan perlahan menghilang. Globalisasi dan modernisasi telah mengikis keakraban generasi muda terhadap bahasa ibu mereka sendiri.
Indonesia, negeri kepulauan yang kaya budaya, kini menghadapi kenyataan pahit. Menurut data Badan Bahasa, lebih dari 400 bahasa daerah dalam kondisi “terancam punah” pada [Tahun 2024]. Generasi muda, terutama di perkotaan, lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari.
Ketika Bahasa Ibu Tak Lagi Diucapkan
“Bahasa itu bukan hanya alat komunikasi, melainkan identitas budaya yang membentuk jati diri,” ungkap Dr. Setya Wibawa, pakar linguistik dari Universitas Indonesia. Ia menambahkan bahwa hilangnya satu bahasa daerah berarti kehilangan satu sudut pandang dunia yang unik.
Faktor utama dari kemunduran ini beragam. Dominasi Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa, selain itu tekanan globalisasi yang mengedepankan bahasa Inggris, membuat bahasa daerah terasa kurang relevan. Urbanisasi memperparah situasi, karena keluarga yang pindah ke kota besar jarang mewariskan bahasa ibu kepada anak-anaknya.
Selain itu, banyak sekolah yang tidak lagi mewajibkan pelajaran bahasa daerah. Akibatnya, generasi muda tak lagi akrab dengan kosakata nenek moyang mereka. Kemudian stigma bahwa menggunakan bahasa daerah itu “kampungan”, membuat upaya pelestarian semakin berat.
Berbagai solusi kreatif kini mulai digerakkan. Daerah seperti Bali dan Yogyakarta sudah mengintegrasikan bahasa lokal dalam kurikulum sekolah. Festival sastra berbahasa daerah, proyek dokumentasi digital, hingga gerakan keluarga berbahasa ibu juga mulai marak yang melakukan.
Dengan perkembangan teknologi, dokumentasi bahasa melalui kamus daring dan aplikasi belajar menjadi langkah krusial. Meski begitu, peran terbesar tetap ada di tangan keluarga dan masyarakat. Menghidupkan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari adalah kunci agar identitas budaya kita tetap lestari.
Jika kita lengah, maka bahasa-bahasa ini hanya akan menjadi catatan dalam sejarah, tanpa ada yang lagi mengucapkannya. Menjaga bahasa daerah berarti menjaga warisan, menjaga kisah, dan menjaga Indonesia agar tetap kaya dalam warna dan makna.

