Jakarta – Gadget kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, namun penggunaannya yang tidak terkontrol bisa menimbulkan dampak serius. Dari terganggunya waktu tidur, pola hidup yang kacau, hingga hambatan perkembangan emosional. Untuk itu, para orangtua perlu mengambil peran aktif dalam mengatur penggunaan perangkat digital ini.
Mutia Aprilia Permata Kusumah, psikolog anak dan remaja dari Klinik Nest dan TigaGenerasi, menyampaikan bahwa kunci utama adalah penjadwalan waktu secara tepat. “Yang perlu diperhatikan pertama-tama adalah aktivitas wajib anak setiap hari itu apa saja. Itu yang perlu di-plot dulu jamnya,” ujar Mutia kepada Kompas.com, Selasa (1/7/2025).
Menurutnya, setelah menentukan waktu untuk sekolah, belajar, makan, dan tidur, barulah bisa disisihkan waktu luang yang boleh digunakan anak untuk bermain gadget. Namun, waktu ini harus dibatasi dan disepakati sejak awal bersama anak. Hal ini penting agar anak merasa terlibat dan mengerti alasan di balik aturan tersebut.
Selain durasi, Mutia juga menekankan pentingnya pengawasan lokasi dan momen penggunaan gadget. Ia menyarankan agar anak hanya boleh menggunakan gadget di ruang keluarga atau tempat yang mudah dipantau. Lokasi seperti kamar tidur harus bebas dari gawai karena dikhawatirkan mengganggu waktu istirahat dan sulit diawasi.
“Kalau sudah masuk kamar, handphone-nya enggak boleh karena takutnya enggak terawasi,” ujarnya. Ia juga menyarankan waktu makan dan menjelang tidur sebaiknya bebas dari aktivitas digital demi menjaga kualitas interaksi dan istirahat anak.
Mutia juga menggarisbawahi bahwa setiap anak memiliki rutinitas dan kebutuhan berbeda. Ada anak yang aktif dengan kegiatan harian yang padat sehingga secara alami tidak memiliki banyak waktu untuk gadget. Namun, anak yang lebih longgar aktivitasnya akan lebih rentan terhadap penggunaan berlebihan.
Karena itu, strategi pengaturan waktu gadget sebaiknya disesuaikan secara individual. “Setiap anak berbeda. Maka orangtua harus mengenali dulu keseharian anak, dan menyesuaikan pendekatannya dengan kondisi masing-masing,” jelas Mutia.
Dengan pendekatan personal dan kesepakatan bersama, diharapkan penggunaan gadget menjadi sehat, terkendali, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

