Yogyakarta – Di tengah lengking gamelan dan hiruk langkah wisatawan di Malioboro, wajah Kota Gudeg pelan-pelan berubah bak batik yang disusun ulang motifnya. Melalui Dana Keistimewaan (DAIS), Yogyakarta menata trotoar, menguatkan usaha kecil, sekaligus menghidupkan kembali ruang-ruang budaya, agar keistimewaan tidak hanya terdengar dalam slogan, tetapi terasa dalam kehidupan warga sehari-hari.
DAIS adalah skema pendanaan khusus yang digelontorkan pemerintah pusat untuk memperkuat tata kelola, budaya, dan ekonomi rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Program ini dikelola bersama oleh Pemerintah DIY dan Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK). Fokusnya bukan sekadar membagi anggaran, melainkan menggerakkan perubahan dari jantung kota hingga desa, lewat penataan ruang, dukungan UMKM, penguatan museum, sampai pemberdayaan tanah kalurahan.
Salah satu perubahan paling terasa tampak di kawasan Malioboro. Ratusan pedagang kaki lima yang dulu memenuhi trotoar kini direlokasi ke Teras Malioboro Beskalan dan Ketandan. Dua ruang baru itu dirancang layaknya pusat belanja modern namun tetap bernapas budaya lokal, dengan area publik dan amfiteater untuk pentas seni.
“Sekarang kami punya tempat yang lebih nyaman dan pembeli lebih banyak,” ujar seorang pedagang pernak pernik khas Yogyakarta di Teras Malioboro Beskalan dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (13/11/2025).
Perbaikan wajah kota berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi rakyat. Melalui program SiBakul Jogja, pemerintah daerah menggandeng berbagai platform logistik seperti Grab, Paxel, POS Indonesia, DifaBike, dan Jogjakita untuk memberikan subsidi ongkos kirim bagi pelaku UMKM. Hingga September 2025, tercatat 60.300 transaksi dengan omzet menembus Rp 8,65 miliar, dengan efektivitas bantuan ongkir yang nilainya delapan kali lipat dari dana yang digelontorkan.
“Kalau dulu jualannya cuma di Pasar Beringharjo, sekarang pesanan datang dari Malaysia dan Singapura lewat marketplace,” tutur seorang pengrajin batik asal Kotagede.
DAIS juga menopang kegiatan Pameran UMKM Desa Prima dan Desa Preneur yang membuka peluang bagi perempuan desa untuk berwirausaha berbasis budaya lokal. Produk-produk kuliner tradisional, kerajinan kayu, kain, hingga kriya inovatif didorong tampil di pameran berskala nasional bahkan ekspor, seperti JIFFINA dan IFEX, sehingga pelaku usaha kecil tak lagi terpaku pada pasar lokal.
Di ranah kebudayaan, program Wajib Kunjung Museum menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal sejarah kotanya. Hingga September, sebanyak 1.579 siswa dari 23 sekolah diajak mengunjungi 17 museum di DIY, antara lain Museum Affandi dan Museum Gunung Api Merapi. Pemerintah menyediakan empat bus khusus untuk menjemput peserta, terutama dari wilayah yang jauh dari pusat kota.
“Anak-anak jadi tahu sejarah Yogyakarta. Tidak hanya dari buku,” ucap seorang guru pendamping dari Kulon Progo.
Selain museum, berbagai agenda budaya digelar rutin, mulai dari Pentas Selasa Wagen di lingkungan Keraton, Pekan Budaya Tionghoa, Jogja Fashion Carnival, hingga ArtJog yang mempertemukan seniman muda dengan maestro lokal. Festival Dalang Anak dan Remaja, Festival Macapat, dan Anugerah Kebudayaan memastikan tradisi klasik tetap hidup berdampingan dengan kreativitas kontemporer.
Penataan infrastruktur pariwisata juga mendapat porsi penting. Sistem parkir di kawasan heritage Malioboro dibenahi melalui pembangunan Gedung Parkir Ketandan dan Beskalan, serta revitalisasi area Abu Bakar Ali. Langkah ini membuat kawasan wisata lebih ramah pejalan kaki tanpa menghilangkan nuansa khas Jogja. DAIS juga ikut membiayai peningkatan jalan Prambanan–Gayamharjo dan Tegalsari–Klepu, serta proyek layanan air bersih di Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul.
Di sektor pemerintahan, dana ini mendorong lahirnya inovasi pelayanan publik. Sejak 2023, tercatat empat inovasi di tingkat Pemda DIY dan 31 inovasi di kabupaten, kota, serta kalurahan. Semua dikembangkan sejalan dengan budaya pemerintahan SATRIYA yang menekankan nilai selaras, akal budi, keteladanan, semangat melayani, inovasi, kepercayaan diri, serta profesionalisme aparatur.
Pada tingkat desa, DAIS hadir lewat Bantuan Keuangan Khusus ke 12 kalurahan di Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, dan Sleman. Di Kalurahan Merdikorejo, Sleman, misalnya, program Optimalisasi Tanah Kalurahan mendorong warga mengembangkan tanaman produktif, termasuk budidaya melon secara hidroponik. Hasil panen bernilai puluhan juta rupiah menjadi bukti bahwa tanah kalurahan bisa menjadi sumber kesejahteraan baru.
Aspek tata ruang juga disentuh, antara lain lewat pengadaan 40 becak kayuh bertenaga alternatif yang disalurkan kepada tiga koperasi becak di DIY. Inisiatif ini merawat ikon transportasi tradisional sekaligus menghadirkan moda ramah lingkungan. Revitalisasi Pasar Sentul pun tak hanya mempercantik bangunan, tetapi menghidupkan kembali pasar sebagai ruang sosial dan budaya tempat warga saling berinteraksi.
Lebih dari satu dekade sejak DAIS bergulir pada 2013, Yogyakarta mulai menuai hasil: kota kian tertib, UMKM naik kelas, dan festival budaya tak pernah sepi penonton. Dengan semangat gotong royong ala Jawa, keistimewaan Jogja tampak dirawat bukan lewat kata-kata, melainkan melalui karya yang mengalir dari trotoar Malioboro hingga sudut-sudut kalurahan.

