Jakarta – Seperti alun angklung yang memadukan nada, Indonesian Folk Market atau Pasar Rakyat Indonesia 2025 menjadi panggung temu budaya yang hangat antara Indonesia dan Afrika Selatan. Gelaran tahunan KJRI Cape Town dengan dukungan Kementerian Kebudayaan pada tahun ini bukan sekadar pesta seni dan kuliner, melainkan strategi merajut persahabatan yang berjejak panjang, dari sejarah Syekh Yusuf hingga semangat Konferensi Asia-Afrika.
Acara dibuka resmi oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Berlangsung di Cape Town, hajatan ini menampilkan tari Saman, permainan angklung, lokakarya batik, dan sajian gastronomi Nusantara untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada publik setempat dan mempererat hubungan dengan komunitas diaspora. Panitia mencatat sekitar 4.000 pengunjung, terdiri dari diaspora Indonesia, komunitas keturunan Cape Malay, dan masyarakat umum. Dalam konteks kebijakan, dukungan Kemenbud menandai penguatan diplomasi budaya di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, sejalan dengan amanat UUD 1945 Pasal 32 ayat 1.
“Indonesia dan Afrika Selatan memiliki akar sejarah yang panjang dan mendalam. Tokoh seperti Syekh Yusuf Al-Makassari, yang diasingkan ke Cape Town pada tahun 1694, menjadi jembatan awal hubungan budaya antara kedua bangsa,” ujar Fadli, dalam keterangan tertulis, Minggu (2/11/2025).
“Komunitas keturunan Indonesia di Cape Town atau Cape Malay yang jumlahnya sangat besar, bahkan Menteri Kebudayaan Afrika Selatan Gayton McKenzie menyebut jumlahnya saat ini adalah 2,7 juta, merupakan bukti ikatan persaudaraan kedua negara yang sangat kuat,” sambungnya.
Kegiatan ini diposisikan sebagai instrumen soft power yang tak hanya menyapa indera, tetapi juga menumbuhkan jejaring ekonomi kreatif. Festival Film Indonesia di Cape Town turut disiapkan, menayangkan karya sineas Tanah Air seperti Jumbo dan Sore untuk memperluas apresiasi publik serta membuka peluang kolaborasi produksi.
“Budaya adalah kekuatan lunak (soft power) bangsa. Melalui dialog antarbudaya, kita membangun keharmonisan, kreativitas, dan inovasi yang berakar pada warisan budaya bangsa,” kata Fadli.
Di panggung internasional, Fadli menegaskan kesinambungan kerja sama Indonesia-Afrika Selatan dalam forum G20 dan BRICS, sementara di tingkat domestik, Kemenbud mendorong ekosistem budaya yang inklusif. Data yang ia paparkan menunjukkan geliat industri film: pada 2024 rilis 151 film yang menyedot lebih dari 80 juta penonton dengan pangsa pasar domestik sekitar 70 persen, menandakan daya saing narasi lokal.
“Per Oktober 2025, jumlah penonton telah melampaui 77 juta, dengan proyeksi kontribusi hingga USD 9,8 miliar terhadap PDB nasional pada 2027,” kata Fadli.
Dalam pidatonya, Fadli juga meresapi posisi Indonesia di peta peradaban dunia: rumah bagi 1.340 kelompok etnis dan 718 bahasa daerah, serta beragam situs prasejarah yang menandai jejak panjang kemanusiaan.
“Jika dunia mengenal teori Out of Africa, maka kita dapat pula merenungkan perspektif Out of Nusantara-bahwa Nusantara bukan sekadar saksi, melainkan bagian aktif dari sejarah dan perkembangan peradaban dunia,” jelas Fadli.
“Semoga semangat solidaritas, persaudaraan, dan persahabatan antara Indonesia dan Afrika Selatan terus tumbuh dan terjalin, membawa manfaat bagi kedua bangsa,” pungkasnya.
Pada akhirnya, diplomasi budaya di Cape Town ini berbicara lewat rasa, gerak, dan bunyi. Seperti peribahasa, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui: promosi budaya berjalan, diaspora dirangkul, dan persahabatan lintas samudra kian menguat.

