Jakarta – Dunia industri global tengah dilanda kekhawatiran setelah China membatasi ekspor tanah jarang, mineral esensial yang sangat dibutuhkan dalam sektor otomotif, robotika, dan pertahanan. Ketegangan geopolitik antara Beijing dan Washington kembali mencuat, memicu spekulasi dampak jangka panjang pada rantai pasok global.
China, yang menyumbang sekitar 60% dari pasokan tanah jarang dunia, secara resmi mulai memberlakukan pembatasan ekspor logam langka seperti samarium sejak awal April lalu. Kebijakan ini disebut-sebut sebagai respons langsung terhadap kebijakan tarif tinggi Presiden AS Donald Trump atas sejumlah produk ekspor dari China.
“Jadi, harapan kami adalah … segera setelah jabat tangan, kontrol ekspor dari AS akan dilonggarkan, dan logam tanah jarang akan dilepaskan dalam jumlah besar,” ujar Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, dalam pernyataan usai negosiasi di London.
Negosiasi antara pejabat tinggi AS dan China yang berlangsung sejak Selasa di London bertujuan menghindari kerusakan lebih lanjut akibat pembatasan ini. Amerika Serikat bahkan menyatakan kesiapannya untuk melonggarkan pembatasan ekspor chip sebagai timbal balik atas pelonggaran ekspor tanah jarang dari pihak China.
Dampaknya sudah mulai terasa di sektor-sektor strategis. William Bain dari Kamar Dagang Inggris menyoroti pentingnya samarium dalam pembuatan magnet bagi jet tempur F-35 milik AS.
“Mereka tidak dapat membuatnya tanpa itu. Tidak memiliki akses ke sana (tanah jarang) sangat memengaruhi konstruksi AS di sektor tersebut dan mungkin juga keamanan nasionalnya,” kata Bain.
Industri otomotif dan robotika, terutama di kawasan Eropa dan Amerika Utara, juga mulai melaporkan penundaan produksi akibat ketergantungan tinggi pada logam langka tersebut. Dalam skenario terburuk, pembatasan ini dapat memicu krisis pasokan dan mendorong negara-negara Barat mempercepat pencarian alternatif sumber mineral.
Analis menyebut situasi ini bisa menjadi titik balik dalam geopolitik mineral, memperkuat dorongan diversifikasi pasokan dari kawasan lain seperti Afrika, Australia, dan Amerika Latin. Namun, realisasi proyek-proyek penambangan baru membutuhkan waktu bertahun-tahun, yang berarti ketidakpastian tetap tinggi dalam waktu dekat.
Konflik ini memperlihatkan betapa vitalnya kontrol atas bahan baku strategis dalam era teknologi canggih, dan bagaimana kebijakan ekonomi dapat menjadi senjata diplomatik dalam konflik antarnegara besar.

