Jakarta – Selesai sudah keterlibatan Elon Musk di pemerintahan Presiden Donald Trump. Ia resmi mengundurkan diri dari posisinya sebagai Pegawai Pemerintah Khusus di Department of Government Efficiency (DOGE). Namun, di balik langkah itu, Elon Musk kini dihadapkan pada tantangan besar: krisis performa Tesla yang terus memburuk di pasar global.
Lewat akun X pribadinya, Musk menyampaikan ucapan terima kasih kepada Trump atas kepercayaan yang diberikan selama masa tugasnya. “Karena masa tugas saya sebagai Pegawai Pemerintah Khusus akan segera berakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden @realDonaldTrump atas kesempatan untuk mengurangi pemborosan pengeluaran,” tulisnya.
Kepergian Musk dari rezim Trump tidak serta-merta menghentikan tekanan terhadap Tesla. Gerakan Tesla Takedown, sebuah protes akar rumput yang menyerukan boikot terhadap Tesla dan kepemilikan sahamnya, masih bergema. Mereka menyatakan bahwa “pertarungan masih jauh dari selesai,” mengacu pada dugaan bahwa Musk masih memiliki akses politik langsung ke Trump.
Tesla Takedown muncul awal tahun ini sebagai respons atas kekhawatiran pengaruh politik Musk yang dinilai terlalu dominan. Aksi ini diwujudkan dalam bentuk demonstrasi damai dan ajakan menjual kendaraan serta saham Tesla, dengan tujuan mengurangi dampak ekonomi perusahaan dan membatasi pengaruh CEO-nya.
Masalah Tesla semakin nyata saat data penjualan menunjukkan tren penurunan tajam. Asosiasi Produsen Mobil Eropa (EAMA) melaporkan bahwa pada April lalu, pendaftaran kendaraan Tesla di Eropa anjlok 52,6%. Penurunan berlanjut selama empat bulan pertama 2025 dengan penurunan total 46,1%. Ini terjadi di tengah pertumbuhan kendaraan listrik yang justru meningkat hingga 26,4% di Eropa.
Di luar Eropa, kabar buruk datang dari Kanada. Business Insider mencatat bahwa di provinsi Quebec, penjualan Tesla turun drastis sebesar 85% pada kuartal pertama. Model 3 menjadi korban terbesar dengan penurunan hingga 94%.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah Tesla tidak hanya berasal dari tekanan eksternal seperti gerakan sosial, tetapi juga dari lemahnya strategi penjualan di tengah persaingan ketat industri kendaraan listrik.
Dengan mundurnya Musk dari posisi di pemerintahan, fokusnya kini kembali sepenuhnya ke Tesla. Namun, jalan pemulihan tampaknya masih panjang dan terjal bagi raksasa otomotif ini.

