Jakarta – Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengenai pemasangan stairlift di Candi Borobudur mengundang sorotan publik. Dalam sebuah pernyataan bernada sinis, Fadli menyebut, “kita perlu piknik” untuk melihat bagaimana situs warisan dunia lain seperti Akropolis di Yunani telah menerapkan teknologi serupa demi aksesibilitas.
Kontroversi muncul setelah pemasangan stairlift di Candi Borobudur yang ditujukan untuk memudahkan lansia dan penyandang disabilitas. Menurut Fadli, teknologi ini bukan hal baru di dunia pelestarian warisan budaya. Ia mencontohkan penerapan lift serupa di Akropolis dan menyayangkan perdebatan yang menurutnya tak berdasar.
“Kalau kita datang ke situs-situs heritage dunia itu sudah ada, dipasang di mana-mana, kita ini terlambat,” ujar Fadli saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, pada Jumat (6/6/2025). Ia menambahkan bahwa pemasangan ini bersifat tidak masif dan tidak merusak struktur situs bersejarah.
Dalam tanggapannya terhadap kritik netizen, Fadli menegaskan bahwa penggunaan stairlift bertujuan untuk memperluas akses dan tidak merusak sama sekali. Ia menilai Indonesia justru tertinggal dalam aspek inklusivitas situs budaya dibandingkan negara lain.
“Ini sudah dilakukan di seluruh dunia. Saya bisa berdebat dengan mereka yang kontra itu, tidak ada masalah,” lanjutnya.
Namun, verifikasi oleh detikTravel menunjukkan bahwa di Angkor Wat, Kamboja, tidak terdapat fasilitas stairlift, lift, maupun eskalator. Sementara di Akropolis, Athena, memang tersedia lift khusus yang dirancang untuk pengguna kursi roda, diresmikan pada 3 Desember 2020.
Stairlift di Candi Borobudur sebelumnya diuji coba dalam rangka kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Fadli menyatakan wacana permanenisasi fasilitas ini masih menunggu hasil evaluasi uji coba.
“Kita harapkan, nanti ini uji coba dulu ya,” ujarnya di Magelang, Kamis (29/5/2025).
Debat publik ini mencerminkan ketegangan antara pelestarian otentisitas warisan budaya dan kebutuhan akan aksesibilitas yang lebih inklusif.
Dengan pemahaman dan regulasi yang tepat, pemasangan teknologi aksesibilitas seperti stairlift berpotensi menjembatani keduanya—yakni merawat nilai sejarah sekaligus memastikan semua orang bisa menikmati warisan budaya dunia.

