Magelang – “Portabel, tanpa satu mur pun menyentuh batu candi,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menepis kekhawatiran publik terhadap pemasangan stairlift di Candi Borobudur. Dalam kunjungannya ke situs warisan dunia itu pada Kamis (29/5/2025), Fadli membuka wacana untuk menjadikan stairlift sebagai fasilitas permanen guna mendukung inklusivitas wisatawan.
Menurut Fadli, pemasangan stairlift ini merupakan bagian dari rencana lama untuk memudahkan akses wisatawan, terutama kelompok lanjut usia dan penyandang disabilitas. Ia menegaskan, sejauh ini tidak ditemukan masalah teknis yang membahayakan struktur candi.
“Kita harapkan, nanti ini uji coba dulu ya. Di semua cagar budaya dunia sudah dipasang semacam stairlift,” kata Fadli kepada wartawan di Candi Borobudur.
Stairlift yang dimaksud adalah mesin angkut tangga yang saat ini dipasang secara portabel. Pihak kementerian menegaskan bahwa tidak ada bor, paku, maupun bentuk penetrasi yang menyentuh langsung batu candi. Hal ini ditegaskan juga oleh Direktur Utama pengelola Borobudur, Maya Watono.
“Kita tidak ada paku, tidak ada bor, tidak ada sama sekali penetrasi kepada batu candi. Semua dilakukan dengan teknik sipil yang sangat diperhitungkan matang,” jelas Maya.
Namun wacana permanenisasi stairlift ini memunculkan tanggapan kritis dari kalangan arkeolog. Ketua Umum Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Marsis Sutopo, mengingatkan bahwa batuan andesit penyusun Candi Borobudur sangat rentan terhadap tekanan, gesekan, atau benturan.
“Candi Borobudur telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO sejak 1991 dan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional. Maka segala aktivitas harus mengacu pada prinsip pelestarian,” ujar Marsis.
Ia menegaskan, pemasangan fasilitas baru seperti stairlift harus mempertimbangkan Pedoman Pelaksanaan Konvensi Warisan Dunia serta Undang-Undang Cagar Budaya. “Pemasangan stairlift hendaknya tidak menimbulkan kerusakan fisik maupun menurunkan citra Borobudur sebagai situs budaya,” katanya.
Pemerintah menyatakan akan tetap berhati-hati dan melakukan kajian mendalam sebelum menjadikan fasilitas ini permanen. Sementara publik dan pegiat budaya berharap pelestarian tidak dikompromikan oleh kebutuhan aksesibilitas semata.

