Jakarta – Penemuan luar biasa terjadi di Messel Pit, Jerman, ketika para ilmuwan menemukan fosil jangkrik berusia 47 juta tahun dengan kondisi urat sayap yang masih utuh. Spesimen ini diidentifikasi sebagai genus dan spesies baru bernama Eoplatypleura messelensis, dan menjadi catatan fosil tertua dari kelompok jangkrik penghasil suara.
Fosil yang sangat terjaga ini menunjukkan detail pola warna pada sayap, mirip dengan kamuflase jangkrik modern untuk menghindari predator. Menurut Dr Hui Jiang, peneliti dari Universitas Bonn, hal ini menjadi penghubung evolusi penting, karena mirip dengan jangkrik dalam suku Platypleurini, yang saat ini ditemukan di Asia dan Afrika.
“Fosil ini mendorong kembali catatan jangkrik penghasil suara sekitar 20 juta tahun lebih awal dari yang diketahui,” kata Dr Hui Jiang, Jumat (16/5/2025).
Padahal, penelitian sebelumnya menyebutkan kelompok Platypleurini baru berkembang di Afrika sekitar 25–30 juta tahun lalu. Artinya, diversifikasi jangkrik bersuara terjadi jauh lebih dini.
Meski fosil ini adalah betina — yang umumnya tidak berkicau — struktur dan ciri fisiknya mirip dengan pejantan penghasil suara. Temuan ini sangat langka karena selama ini belum pernah ada fosil yang dapat diandalkan dari kelompok Platypleurini.
Dr Conrad Labandeira dari Smithsonian menyebut bahwa evolusi jangkrik kemungkinan berjalan lebih lambat daripada yang diperkirakan studi DNA. Ia yakin fosil-fosil nenek moyang yang lebih tua dari garis keturunan ini masih tersembunyi.
“Penemuan semacam ini sangat penting untuk mengkalibrasi ulang pemahaman kita tentang kecepatan evolusi serangga bersuara,” ujar Labandeira.
Para ilmuwan juga mencatat adanya perbedaan unik antara sayap fosil ini dengan jangkrik modern, memperkuat gagasan bahwa evolusi morfologi sayap terjadi secara bertahap dan kompleks.
Temuan ini menambah wawasan tentang sejarah panjang jangkrik dan pentingnya data fosil dalam melengkapi bukti genetik. Dalam bidang paleontologi, setiap fragmen fosil dapat menjelaskan ribuan tahun sejarah kehidupan.

