Jakarta – Di tengah tekanan ekonomi global dan naiknya biaya hidup, gaya hidup hemat semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, banyak yang belum memahami bahwa frugal living bukan sekadar hemat. Meski tampak serupa, keduanya memiliki pendekatan berbeda dalam mengelola keuangan.
Frugal living merupakan gaya hidup hemat yang strategis dan penuh kesadaran finansial. Lebih dari sekadar menahan diri dari belanja, frugal living menekankan pemilihan pengeluaran berdasarkan manfaat jangka panjang dan nilai intrinsik suatu barang atau jasa. Sementara itu, hemat lebih mengacu pada sikap tidak boros, namun belum tentu mempertimbangkan kualitas atau keberlanjutan dalam berbelanja.
“Frugal living itu bukan soal menekan biaya sebanyak mungkin, tapi memilih pengeluaran yang memberikan value terbaik. Hemat bisa sekadar menghindari belanja tanpa memikirkan kualitas,” tulis Kompas.com, Minggu (29/6/2025).
Gaya frugal living juga cenderung bersifat investatif. Pelakunya secara sadar mengarahkan pengeluaran ke hal-hal yang berdampak jangka panjang, seperti investasi, dana darurat, dan pendidikan. Mereka juga lebih selektif, sering memanfaatkan diskon atau promo untuk mendapatkan produk berkualitas dengan harga lebih efisien.
Di sisi lain, gaya hidup hemat kerap fokus pada penekanan biaya dalam bentuk apapun, tanpa selalu mengevaluasi apakah pengeluaran itu memiliki nilai jangka panjang.
Menariknya, frugal living juga punya dimensi sosial yang kuat. Banyak praktisi frugal living yang tidak pelit, malah cenderung dermawan karena memahami nilai berbagi dan keberlanjutan.
Tren frugal living mengalami lonjakan di Indonesia pascapandemi. Berdasarkan data Kompas.id, sebanyak 29,8 persen masyarakat menerapkan gaya ini demi menabung. Generasi Milenial dan Gen Z, yang mewakili 47 persen populasi, menjadi pelopor utama frugal living karena kebutuhan menyesuaikan gaya hidup fleksibel di tengah tekanan ekonomi.
Gaya hidup ini semakin relevan di era modern, bukan hanya sebagai strategi bertahan, tetapi juga sebagai cara membangun ketahanan finansial dan menjaga keberlanjutan konsumsi.

