Jakarta – Di tengah gempuran kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat Donald Trump, harga batu bara global justru tetap bertahan, bahkan sedikit naik. Paradoks ini mencuat saat Trump menjatuhkan tarif tinggi terhadap sejumlah negara pada awal April, tetapi komoditas energi seperti batu bara nyaris tak terdampak.
Kebijakan tarif AS yang diumumkan pada 1 April 2025 mencakup bea masuk 10% untuk Kanada, 25% bagi Meksiko, serta 10% terhadap Tiongkok. Namun, sejumlah komoditas strategis dikecualikan dari kebijakan ini, termasuk energi, mineral tertentu, dan bahan pangan yang tak diproduksi di AS.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai kebijakan Trump itu telah merombak struktur perekonomian dunia dalam waktu singkat.
“Kebijakan tarif AS menjadikan risiko yang luar biasa,” ungkapnya dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, Selasa (8/4/2025).
Namun, riset dari Bank Mandiri menyebut bahwa perang dagang yang dilancarkan Trump tidak berdampak besar terhadap harga komoditas global, terutama batu bara.
“Sebagian besar harga komoditas mereda selama seminggu setelah Gedung Putih mengkonfirmasi bahwa tarif baru Trump akan mengecualikan energi,” tulis laporan tersebut.
Diketahui, harga batu bara di pasar Newcastle justru naik menjadi US$ 99,4 per ton pada awal April, naik dari posisi sebelumnya US$ 96,6. Sementara itu, komoditas lain seperti minyak, nikel, dan minyak sawit (CPO) justru mencatatkan penurunan ringan.
Penurunan harga beberapa komoditas tersebut lebih disebabkan oleh perlambatan ekonomi global, bukan imbas langsung dari kebijakan tarif Trump.
Menurut laporan Mandiri, pendekatan selektif terhadap komoditas penting menunjukkan bahwa kebijakan tarif Trump masih mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap rantai pasok global.
Dengan pengecualian ini, pasar energi dan bahan baku strategis tetap stabil, meredakan potensi gejolak besar dalam perdagangan internasional.

