Jakarta – Ilmu genetika kembali membuka tabir misteri kompleks dunia kesehatan mental. Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Cell pada Maret 2025, tim ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan bahwa delapan gangguan kejiwaan yang berbeda ternyata memiliki akar genetik yang sama.
Delapan gangguan yang diteliti mencakup autisme, ADHD, skizofrenia, gangguan bipolar, depresi mayor, OCD, sindrom Tourette, dan anoreksia. Temuan ini bermula dari hasil riset tahun 2019 yang telah mengidentifikasi 109 gen terkait gangguan kejiwaan tersebut, namun penelitian terbaru membawa pemahaman ke tingkat yang lebih dalam.
Dengan menggunakan hampir 18.000 varian genetik, para ilmuwan memasukkannya ke dalam sel prekursor neuron untuk menganalisis bagaimana ekspresi gen dapat berubah selama proses perkembangan otak manusia. Hasilnya, mereka menemukan 683 varian yang memengaruhi regulasi gen dan tetap aktif dalam jangka waktu panjang, berpotensi menimbulkan dampak sistemik.
“Protein yang diproduksi oleh gen-gen ini sangat terkait dengan protein lain. Perubahan pada salah satunya dapat menyebar dan memengaruhi jaringan otak secara luas,” jelas Hyejung Won, ahli genetika dari University of North Carolina.
Salah satu temuan paling signifikan dalam penelitian ini adalah peran dari varian genetik pleiotropik. Gen ini berperan dalam interaksi antar protein yang kompleks dan aktif di berbagai jenis sel otak, yang memungkinkan satu varian gen berdampak pada banyak jenis gangguan.
Won menyebutkan bahwa meskipun pleiotropi selama ini dianggap sebagai hambatan dalam klasifikasi gangguan mental, justru pemahaman mendalam terhadapnya bisa membuka jalan untuk pengobatan yang lebih efektif.
“Dengan menargetkan faktor genetik yang bersifat pleiotropik, kita berpotensi menciptakan terapi yang dapat mengatasi lebih dari satu gangguan sekaligus,” ujarnya.
Data dari WHO menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 8 orang di dunia mengalami gangguan kejiwaan, menyoroti urgensi penelitian semacam ini untuk mendukung pengembangan terapi yang lebih presisi dan berbasis genetika.
Penelitian ini sekaligus memberi penjelasan ilmiah mengapa gangguan kejiwaan sering muncul bersamaan dalam satu individu atau keluarga, memperkuat argumen bahwa pendekatan genetika adalah kunci memahami dan menangani gangguan jiwa secara lebih menyeluruh.

