Jakarta – Dalam diam, Indonesia menorehkan prestasi global di sektor peternakan. Data terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan Indonesia kini berada di posisi ketiga sebagai produsen telur terbesar di dunia, dengan produksi mencapai 144,59 miliar butir.
Peringkat pertama masih ditempati oleh Tiongkok dengan produksi mencengangkan sebesar 612,83 miliar butir, diikuti Jepang dengan 406,3 miliar butir. Di bawah Indonesia ada India dengan 142,67 miliar butir dan Amerika Serikat dengan 109,53 miliar butir.
Kementerian Pertanian menyambut baik capaian ini dan menyebutnya sebagai bukti nyata pertumbuhan sektor peternakan nasional. Dalam unggahan Instagram resminya, Kementan menyampaikan bahwa keberhasilan ini berkat peran para peternak lokal serta dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten.
“Produksi telur Indonesia menembus angka 144,59 miliar butir dan menempatkan kita di peringkat ketiga dunia. Ini bukti nyata sektor peternakan kita terus tumbuh dan berkontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan protein masyarakat,” tulis Kementan, Minggu (29/6/2025).
Pemerintah pun optimistis, dengan capaian ini, Indonesia dapat menjadi lumbung protein hewani yang tangguh dan berkelanjutan. Kementan menekankan pentingnya kolaborasi antara peternak, pemerintah, dan pelaku industri agar produksi terus meningkat secara berkualitas dan konsisten.
Selain unggul di sektor telur, Indonesia juga menempati posisi keempat dalam produksi beras dunia, setelah India, China, dan Bangladesh. Produksi beras RI tahun 2025/2026 diperkirakan mencapai 35,6 juta ton.
“Produksi beras Indonesia bertumbuh luar biasa jika dibandingkan tahun lalu. Bahkan FAO pun mengakui Indonesia sebagai salah satu produsen beras tertinggi dunia. Kita patut apresiasi seluruh stakeholder perberasan Indonesia,” kata Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi.
Prestasi Indonesia di sektor pertanian dan peternakan ini mencerminkan potensi besar negara dalam menyediakan pangan secara mandiri. Dengan terus menjaga produktivitas dan kualitas, Indonesia berpeluang besar menjadi pemain utama dalam pemenuhan kebutuhan pangan global.

