Close Menu
Kenai.idKenai.id
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Senin 16 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kenai.idKenai.id
    • Berita
    • Nusantara
    • Lifestyle
    • Artikel
    • Promosi
    Kenai.idKenai.id
    Beranda » Ketindihan Saat Tidur, Mitos Mistis yang Dipatahkan Medis
    Kesehatan

    Ketindihan Saat Tidur, Mitos Mistis yang Dipatahkan Medis

    By Richard29 Juni 2025Updated:29 Juni 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ilustrasi penjelasan medis mengenai masalah ketindihan (.inet)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Banyak orang percaya bahwa saat ketindihan dalam tidur, tubuh tengah ‘dijajah’ oleh makhluk gaib. Namun, anggapan ini tak lebih dari mitos yang dipatahkan oleh dunia medis. Pakar kesehatan tidur, dr Andreas Prasadja, RPSGT, menyatakan bahwa fenomena ini sejatinya merupakan kondisi medis bernama sleep paralysis yang kerap disertai hypnagogic hallucination.

    Menurut dr Andreas, ketindihan terjadi ketika otak berada di persimpangan antara sadar dan mimpi, yang memicu halusinasi visual seperti melihat bayangan atau sosok tak dikenal. Kondisi ini disebut hypnagogic hallucination dan umum terjadi saat seseorang kurang tidur atau dalam fase REM (rapid eye movement), yaitu tahap tidur saat mimpi berlangsung intens.

    “Ketindihan atau erep-erep sebenarnya adalah tumpang tindih antara gelombang otak terjaga dan gelombang tidur REM,” ujar dr Andreas, dikutip pada Minggu (29/6/2025).

    Ia menjelaskan, selama fase REM, tubuh secara alami ‘dikunci’ agar tidak bergerak mengikuti mimpi. Saat seseorang setengah sadar namun belum sepenuhnya terjaga dari fase REM, kombinasi halusinasi dan kelumpuhan sementara ini bisa menciptakan pengalaman yang menyeramkan.

    Lebih lanjut, dr Andreas menekankan bahwa bentuk halusinasi yang dialami kerap dipengaruhi oleh budaya dan kepercayaan masing-masing individu. Di Indonesia, misalnya, sosok yang muncul kerap dianggap sebagai ‘jin’ atau makhluk halus, berbeda dengan penampakan yang dialami masyarakat dari budaya lain.

    Sleep paralysis sendiri bukanlah kondisi langka. Ia bisa dialami siapa saja, terutama jika seseorang mengalami gangguan pola tidur, kelelahan ekstrem, stres, atau kurang tidur berkepanjangan. Oleh karena itu, menjaga kualitas tidur menjadi salah satu cara terbaik untuk mencegah ketindihan.

    “Fenomena ini terjadi karena kurang tidur yang sangat parah, hingga mengganggu transisi otak saat tidur,” tambah dr Andreas.

    Meski menakutkan, sleep paralysis tidak berbahaya dan tidak berkaitan dengan hal mistis. Pemahaman ilmiah ini diharapkan dapat mengurangi kecemasan dan kesalahpahaman yang beredar di masyarakat seputar fenomena ketindihan.

    Fakta Medis Halusinasi Tidur Ketindihan Tidur Sleep Paralysis Tidur REM
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Richard

    Related Posts

    Prabowo Instruksikan Pembangunan 66 RS Baru Berstandar RSKEI

    19 November 2025

    Kenali 4 Jenis Kanker Kulit, Salah Satunya Paling Mematikan

    4 Juli 2025

    Picu Mimpi Buruk, Psikologi Ungkap Hubungan Makanan dan Tidur

    3 Juli 2025

    Comments are closed.

    © 2026 Kenai.id by Dexpert, Inc.
    PT Sciedex Multi Press
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.