Jakarta – Seperti perahu layar yang menyeberangi samudra Nusantara, komet 3I/ATLAS datang sebagai “tamu jauh” yang memantik takjub sekaligus cemas di linimasa. Warganet ramai berbagi foto dan animasi orbitnya, bertanya-tanya apakah si pendatang dari luar tata surya itu berbahaya bagi Bumi—namun para ahli menegaskan, ia hanya melintas, bukan mengancam.
Komet 3I/ATLAS adalah objek antarbintang ketiga yang pernah terdeteksi manusia. Ia ditemukan pada [Selasa (01/07/2025)] oleh teleskop Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) di Chile. Jalurnya hiperbolik—ciri khas pendatang dari luar tata surya—dan perihelionnya diperkirakan terjadi pada [30 Oktober 2025] di sekitar 1,4 AU dari Matahari, sementara jarak terdekatnya dari Bumi tetap aman di kisaran 1,8 AU. Artinya, tidak ada skenario tabrakan.
“Ini bukan asteroid yang berpotensi tabrakan. Ia hanya lewat, melintas tata surya kita satu kali sebelum kembali ke ruang antarbintang,” ujar Prof. Thomas Djamaluddin, Peneliti Ahli Utama BRIN bidang Astronomi dan Astrofisika.
Penamaan 3I/ATLAS sendiri bermakna sederhana: angka “3” menandai objek antarbintang ketiga setelah ‘Oumuamua (2017) dan Borisov (2019), sedangkan huruf “I” berarti interstellar. Jalur hiperboliknya menjadi bukti ia tidak terikat gravitasi Matahari—datang, menyapa, lalu kembali ke ruang antarbintang.
Dari sisi fisika, 3I/ATLAS menunjukkan komposisi yang unik. Hasil pengamatan James Webb Space Telescope (JWST) mengungkap koma yang didominasi gas karbon dioksida (CO₂) dengan rasio CO₂/H₂O yang termasuk tertinggi yang pernah diukur pada komet. Pengamatan darat juga merekam selubung gas-debu (koma) yang membentang puluhan ribu kilometer—gambar dari Observatorio del Teide memperkirakan dimensi komanya sekitar 25.000 kilometer. Temuan ini membuka jendela baru untuk memahami tempat kelahirannya di sistem bintang lain.
Kecepatannya pun mencengangkan: sekitar 130.000 mph atau ±210.000 km/jam saat melaju menuju Matahari. Karena pada Oktober–November posisinya terlalu dekat dengan arah Matahari, komet ini sulit diamati langsung dari Bumi dan baru diperkirakan “muncul” kembali untuk pengamatan teleskopik pada awal Desember. Badan antariksa Eropa (ESA) memanfaatkan momentum ini; misi Mars Express, ExoMars Trace Gas Orbiter, hingga JUICE dijadwalkan memantau 3I/ATLAS dari jarak jauh guna merekam aktivitas pasca-perihelion.
“Lintasannya aman. Jarak minimumnya dari Bumi tetap jauh, jadi tidak ada potensi tabrakan,” tegas Prof. Thomas.
Bagi astronom, kehadiran 3I/ATLAS bukan isyarat bahaya, melainkan pelajaran alam. Setiap butir gas dan debu yang lepas dari intinya membawa kisah kimiawi dari sistem bintang lain—sebuah arsip purba yang melampaui umur tata surya. Layaknya tamu yang singgah di pelabuhan rempah Nusantara, ia meninggalkan kabar dan pengetahuan, lalu berlayar lagi ke gelapnya antarbintang.

