Washington DC – Lebih dari sekadar ambisi luar angkasa, negara dan korporasi kini berlomba kembali ke Bulan demi kepentingan strategis dan ilmiah. Program Artemis milik NASA dan proyek gabungan Rusia-Tiongkok menjadi simbol babak baru eksplorasi antariksa yang menyatukan puluhan negara dan perusahaan teknologi. Tujuan utamanya: membangun pangkalan permanen di Bulan.
NASA bekerja sama dengan 55 mitra global dalam proyek Artemis, yang mencakup rencana pembangunan Artemis Base Camp di kutub selatannya serta peluncuran stasiun luar angkasa baru bernama Gateway di orbitnya. Di sisi lain, Rusia dan China menggagas International Lunar Research Station (ILRS) yang ditargetkan rampung pada 2035 dengan melibatkan 13 mitra internasional.
Meski didesain untuk kepentingan ilmiah, baik Artemis maupun ILRS diyakini memiliki nilai strategis tinggi. Seperti pada era Perang Dingin, Bulan kembali menjadi simbol persaingan kekuatan global, namun kini dengan lebih banyak pemain. AS bahkan menyatakan secara terbuka bahwa mereka berada dalam “perlombaan baru ke Bulan” yang ingin mereka menangkan.
Salah satu daya tarikbya adalah kekayaan mineralnya—dari besi, silikon, titanium, hingga hidrogen dan logam tanah jarang. Regolith atau tanahnya juga bisa digunakan sebagai bahan konstruksi dan pelindung radiasi, sementara es air yang ditemukan sejak 2008 diyakini sangat penting untuk mendukung kehidupan, pertanian, dan pendinginan peralatan.
“Bulan juga bisa menjadi lokasi transit ke Mars, serta tempat pengisian bahan bakar,” kata Sara Pastor, Manajer Program Bulan dari ESA dalam emailnya kepada DW.
Sara menjelaskan bahwa eksplorasi bukan hanya demi penelitian ilmiah, tetapi juga untuk mendukung keberlangsungan pangkalan jangka panjang, memahami dampak lingkungan bulan terhadap kesehatan manusia, serta mengembangkan sistem robotik dan perlindungan dari radiasi.
ESA tengah mengembangkan teknologi seperti pengukur radiasi, alat pengeboran, hingga sistem analisis geofisika. Selain itu, teknologi antariksa dari masa lalu seperti misi Apollo telah memberi manfaat besar bagi kehidupan di Bumi—termasuk dalam miniaturisasi elektronik, makanan beku-kering, hingga perangkat kesehatan portabel.
Dengan NASA menargetkan misi manusia ke Mars pada 2030-an, koloni di Bulan diposisikan sebagai tempat pelatihan dan pos logistik utama. Bagi para ilmuwan, Bulan bukan hanya simbol masa depan eksplorasi, tetapi juga ujian nyata bagaimana teknologi luar angkasa dapat menopang kehidupan lintas planet.

