Jakarta – Di tengah cuaca yang tak menentu dan kelembapan udara yang tinggi, banyak atap rumah di daerah tropis seperti Indonesia mulai diselimuti lumut. Fenomena ini bukan semata persoalan tampilan yang kusam, namun juga menjadi ancaman bagi keawetan material atap itu sendiri.
Menurut laporan situs Guardian Roofing pada Selasa (20/5/2025), pertumbuhan lumut di atap dipicu oleh minimnya paparan sinar matahari, akumulasi debu serta kotoran, material atap yang menyerap kelembapan, dan sistem drainase yang tidak lancar. Jika dibiarkan, lumut dapat mempercepat kerusakan genteng, bahkan menyebabkan kebocoran.
“Permukaan atap yang lembap dan teduh adalah tempat sempurna bagi lumut untuk berkembang biak. Terlebih jika talang air tersumbat, air hujan akan menggenang dan memperparah kondisinya,” ujar laporan tersebut.
Pembersihan atap secara berkala menjadi langkah krusial untuk mencegah dan menghilangkannya. Mengutip laman Roof Pro, proses ini bisa dilakukan mandiri dengan alat sederhana seperti tangga, selang air, dan cairan pembersih yang ramah lingkungan.
Langkah awal adalah memastikan keamanan saat naik ke atap. Setelah itu, campurkan cairan pembersih dengan air, lalu siramkan ke area yang berlumut. Diamkan selama 30 menit agar cairan bekerja optimal sebelum disikat perlahan. Terakhir, bilas seluruh permukaan atap dengan air bersih, mulai dari atas ke bawah, untuk memastikan semua lumut dan residu tersapu tuntas.
Disarankan untuk tidak menggunakan air bertekanan tinggi agar genteng tidak rusak. Proses ini sebaiknya dilakukan pada cuaca cerah agar atap cepat kering dan mencegah pertumbuhan ulang lumut.
Pencegahan jangka panjang bisa dilakukan dengan memangkas cabang pohon yang menghalangi sinar matahari, memperbaiki drainase atap, dan memilih bahan atap yang tidak mudah menyerap air.
Dengan perhatian dan perawatan rutin, pemilik rumah bisa menjaga atap tetap bersih, kuat, dan bebas dari kerusakan akibat lumut.

