Jakarta – Melahirkan sambil bermigrasi mungkin terdengar mustahil, tapi bagi paus bungkuk, itu kini menjadi kenyataan pahit. Dalam studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Marine Science, para peneliti mengungkap bahwa paus bungkuk (Megaptera novaeangliae) kini kerap melahirkan di tengah perjalanan migrasi mereka dari perairan dingin menuju habitat tropis.
Studi ini mendokumentasikan lebih dari 200 bayi paus lahir di wilayah laut Australia dan Selandia Baru, sekitar 1.300–1.500 kilometer lebih selatan dari tempat kelahiran mereka yang biasa. Hal ini menunjukkan perubahan besar dalam perilaku hewan laut raksasa ini yang biasanya melahirkan di perairan tropis setelah menempuh perjalanan ribuan kilometer dari habitat musim panas mereka.
“Ratusan anak paus bungkuk lahir di luar tempat berkembang biak yang sudah ada,” ujar Dr Tracey Rogers dari University of New South Wales, peneliti utama dalam studi tersebut. Ia menekankan bahwa bayi-bayi paus yang lahir di “jalan raya paus bungkuk” ini langsung harus berenang jauh sebelum cukup kuat, sehingga lebih rentan terhadap predator maupun cedera.
Fenomena ini pertama kali banyak terdeteksi sejak 2016, dengan puncak pengamatan terjadi pada tahun 2023 dan 2024. Bayi-bayi paus yang lahir di perairan Tasmania, misalnya, harus berenang sejauh 2.300 kilometer menuju utara hanya beberapa minggu setelah lahir—melewati kawasan industri laut dan jalur pelayaran komersial yang padat.
Dalam salah satu pengamatan di Newcastle, Australia, pada Juli 2024, beberapa bayi paus tercatat memiliki luka-luka tanpa penyebab yang jelas. Peneliti menduga cedera tersebut disebabkan oleh perjalanan panjang dan keras di jalur migrasi yang belum semestinya dilalui bayi baru lahir.
Larangan mendekati paus bungkuk dan anak-anaknya memang diberlakukan di Australia dan Selandia Baru. Namun, lemahnya kesadaran masyarakat, terutama di kawasan wisata dan perairan komersial, membuat peraturan ini sering diabaikan.
Dengan populasi paus bungkuk di Australia Timur yang kini hanya tersisa sekitar 30.000–50.000 ekor, para peneliti menyerukan tindakan segera. Mereka merekomendasikan perluasan kawasan perlindungan laut, peningkatan edukasi masyarakat, serta penelitian lanjutan mengenai pola migrasi paus bungkuk.
Perubahan pola melahirkan ini bisa menjadi sinyal kuat bahwa kondisi lingkungan laut telah berubah. Menyadarinya lebih awal dan bertindak cepat menjadi langkah krusial untuk menyelamatkan spesies megafauna laut yang ikonik ini dari ancaman lebih besar di masa depan.

