Jakarta – Seperti anyaman bambu yang saling menguatkan, sinergi Kementerian Ekonomi Kreatif bersama Pendopo Indonesia kembali menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mengangkat martabat kriya lokal. Melalui program “Ragam Kriya Nusantara: EKRAF x PENDOPO”, sebanyak 70 pelaku kriya mendapatkan dukungan baru untuk memasuki pasar ritel yang lebih luas dan kompetitif.
Program yang berlangsung sejak Selasa (26/11/2025) hingga Sabtu (30/11/2025) di Jakarta ini menghadirkan pameran mini, workshop kreatif, serta kurasi produk unggulan dari berbagai daerah. Kolaborasi tersebut dirancang sebagai ruang peningkatan kapasitas, perluasan akses pasar, dan penguatan identitas produk kriya di tingkat nasional maupun global.
“Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menegaskan subsektor kriya memiliki peluang besar menjadi mesin pertumbuhan baru bagi perekonomian nasional.”
Pernyataan tersebut selaras dengan upaya pemerintah yang terus menumbuhkan talenta kreatif sebagai fondasi ekonomi kreatif Indonesia. Menurutnya, akses ritel yang dibuka Pendopo Indonesia diharapkan mampu menghubungkan karya kriya lokal dengan pasar yang lebih luas, sekaligus menumbuhkan nilai tambah berbasis budaya.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Yuke Sri Rahayu, menilai kontribusi kriya tidak hanya dari sisi ekonomi, melainkan juga sebagai penguatan identitas budaya. Ia menekankan pentingnya inovasi, kualitas, dan kesiapan produk agar mampu bersaing di pasar modern yang bergerak cepat.
Direktur Kriya, Neli Yana, menambahkan bahwa kerja sama pemerintah dan industri ritel merupakan langkah strategis dalam memperluas peluang komersialisasi. Ia berharap kegiatan ini mampu memperkuat ekosistem kreatif berkelanjutan dan membuka jalan bagi lebih banyak produk kriya untuk dipasarkan secara nasional.
“Head of Pendopo, Putu Laura, menyampaikan pihaknya memiliki visi untuk menyediakan ruang lebih luas bagi perajin lokal agar karya mereka dapat dikenal dan dihargai publik.”
Selain pameran, rangkaian acara juga mencakup talkshow bersama dua tokoh kriya, F. Widayanto dan Thio Siujinata. Keduanya membahas proses kreatif, tantangan industri, hingga cara menjaga karakter kriya agar tetap relevan tanpa meninggalkan akar budaya.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Ekraf berharap subsektor kriya dapat berkembang menjadi sektor yang memberikan dampak ekonomi nyata—seperti peningkatan ekspor, pembukaan lapangan kerja baru, hingga penguatan identitas kriya Indonesia di pasar global.
Dengan kolaborasi lintas sektor ini, harapan besar tumbuh bahwa kriya Nusantara akan terus menjadi simbol kreativitas yang mampu melintasi batas, dari ruang budaya lokal menuju panggung dunia.

