Close Menu
Kenai.idKenai.id
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Senin 16 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kenai.idKenai.id
    • Berita
    • Nusantara
    • Lifestyle
    • Artikel
    • Promosi
    Kenai.idKenai.id
    Beranda » Polemik Tambang Nikel di Raja Ampat Jadi Sorotan Publik
    Lingkungan

    Polemik Tambang Nikel di Raja Ampat Jadi Sorotan Publik

    By Richard17 Juni 2025Updated:17 Juni 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ilustrasi polemik tambang nikel di Raja Ampat (.inet)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Raja Ampat – Keindahan alam Raja Ampat kini dibayangi oleh deru alat berat tambang nikel. Akademisi IPB University, Dr. Nimmi Zulbainarni, menyebut polemik ini bukan sekadar soal izin, melainkan kegagalan dalam menerapkan kebijakan berbasis valuasi ekonomi lingkungan secara menyeluruh.

    Dalam keterangannya pada Selasa (17/6/2025), Nimmi menekankan bahwa valuasi ekonomi harus menjadi alat untuk menempatkan lingkungan sebagai inti kebijakan publik. “Bukan sekadar menghitung keuntungan jangka pendek, melainkan memahami nilai jangka panjang dari ekosistem yang terjaga,” ujarnya. Pendekatan ini mencakup nilai penggunaan langsung seperti perikanan dan pariwisata, hingga nilai eksistensi yang tak ternilai.

    Menurutnya, tambang nikel di wilayah pesisir Raja Ampat memperlihatkan ironi kebijakan pemerintah. Di satu sisi, negara mendorong ekonomi biru dan pariwisata berkelanjutan, namun di sisi lain justru membuka ruang untuk aktivitas tambang di kawasan yang sama. Dampaknya tak main-main—sedimentasi, rusaknya karang, hingga polusi yang menggerus basis ekonomi lokal.

    “Praktik pertambangan yang mengabaikan daya dukung lingkungan menjadi bukti lemahnya tata kelola dan prinsip kehati-hatian,” ungkap Nimmi. Ia menyoroti bahwa banyak izin dikeluarkan tanpa kajian Amdal yang partisipatif dan tanpa valuasi ekonomi kredibel.

    Raja Ampat, menurut Nimmi, harus dilihat sebagai ekosistem hidup, bukan sekadar ladang tambang. Ekosistem ini memiliki nilai regeneratif yang penting, baik secara ekonomi, sosial, maupun kultural. Ia juga menggarisbawahi bahwa jika kerusakan lingkungan dihitung sebagai kerugian nyata seperti turunnya pendapatan nelayan atau rusaknya terumbu karang, maka pilihan untuk menjaga alam akan lebih masuk akal dari sisi ekonomi.

    Dalam beberapa bulan terakhir, laporan alih fungsi lahan di Pulau Gag, Kawe, dan Manuran memicu gejolak sosial serta protes dari masyarakat adat. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya konflik ekologi yang timbul akibat aktivitas ekstraktif yang tidak sensitif terhadap konteks lokal.

    “Jika pembangunan hanya difokuskan pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, maka kita gagal memahami makna sejati dari keberlanjutan,” tegas Nimmi. Ia mengajak semua pihak untuk kembali menempatkan kelestarian sebagai inti pembangunan nasional.

    Kebijakan Lingkungan Konflik Ekologi Pembangunan Berkelanjutan Tambang Nikel Raja Ampat Valuasi Ekonomi
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Richard

    Related Posts

    Puluhan Cagar Budaya Rusak Akibat Banjir Sumatera

    8 Desember 2025

    Gubernur Minta Menteri LH Bantu Normalisasi Sungai Mahakam

    4 Juli 2025

    Kemenhut Tetapkan 332 Ribu Ha Hutan Adat, Satgas Dilibatkan

    4 Juli 2025

    Comments are closed.

    © 2026 Kenai.id by Dexpert, Inc.
    PT Sciedex Multi Press
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.