Jakarta – Ketegangan geopolitik dunia kembali menjadi bahan bakar bagi harga emas yang diprediksi melonjak tajam. Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, harga emas keluaran Logam Mulia Antam diperkirakan menembus angka Rp 2 juta per gram pada akhir Juni ini, setelah sebelumnya menyentuh angka tertinggi Rp 2.016.000 per gram pada Selasa (22/4/2025).
Saat ini, harganya berada di level Rp 1.943.000 per gram. Ibrahim menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama di balik kemungkinan kenaikan tersebut, yang dipicu oleh meningkatnya konflik antara Israel dan Iran. Keterlibatan Amerika Serikat dalam menyerang sejumlah situs nuklir Iran menambah eskalasi geopolitik yang berpengaruh langsung terhadap pasar emas global.
“Untuk harga emas domestik ya kemungkinan naik pada saat rupiah melemah, kemudian harga emas dunia menguat yang terjadi harga logam mulia kemungkinan besar sudah di atas Rp 2 juta pada akhir bulan ini,” ujar Ibrahim saat dihubungi, Minggu (22/6/2025).
Ia menambahkan, meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi melemah, namun penurunan ini tidak akan terlalu signifikan. “Sedangkan rupiah sendiri akan mengalami pelemahan yang tidak terlalu signifikan, kemungkinan besar hanya akan 100 poin untuk pelemahannya,” imbuhnya.
Ibrahim juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru membeli, hanya karena mengikuti tren sesaat. Menurutnya, waktu terbaik untuk membeli emas adalah saat harganya mengalami koreksi.
“Sebelumnya pada saat harga emas terkoreksi merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pembelian, karena emas yang akan terkoreksi ini hanya jangka pendek,” katanya menegaskan.
Harga satuannya hari ini untuk ukuran 0,5 gram tercatat Rp 1.058.000, sedangkan untuk 10 gram dihargai Rp 19.655.000. Dalam ukuran terbesar 1 kilogram dibanderol dengan harga Rp 1.956.600.000. Sepanjang sepekan terakhir, harganya bergerak antara Rp 1.896.000 hingga Rp 2.016.000 per gram.
Jika prediksi ini benar, maka hal tersebut bisa kembali menjadi instrumen lindung nilai paling diminati di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

