Close Menu
Kenai.idKenai.id
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Minggu 22 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kenai.idKenai.id
    • Berita
    • Nusantara
    • Lifestyle
    • Artikel
    • Promosi
    Kenai.idKenai.id
    Beranda » Puluhan Cagar Budaya Rusak Akibat Banjir Sumatera
    Lingkungan

    Puluhan Cagar Budaya Rusak Akibat Banjir Sumatera

    Kerusakan warisan budaya di Aceh, Sumut, dan Sumbar menjadi peringatan bahwa alam dan sejarah saling terkait erat dalam denyut Nusantara.
    By Ericka8 Desember 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    umpukan kayu-kayu memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang
    Tumpukan kayu-kayu memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang (.inet)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Banda Aceh – Bagaikan manuskrip tua yang tersapu arus deras, puluhan cagar budaya di Sumatera terdampak banjir dan longsor besar yang melanda kawasan tersebut pada awal Desember. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut sedikitnya 43 situs bersejarah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam, sebuah pukulan telak bagi upaya pelestarian identitas bangsa.

    Pendataan awal pada Kamis (4/12/2025) menunjukkan Aceh menjadi wilayah dengan dampak terparah, yaitu 34 cagar budaya rusak akibat terendam banjir maupun tertimbun material longsor. Sejumlah masjid bersejarah, makam tua, serta rumah adat di Aceh Tengah tercatat mengalami kerusakan sedang hingga berat. Rumah Adat Toweren bahkan dilaporkan rusak parah, sementara Situs Loyang Ujung Karang menghadapi ancaman longsoran serius.

    “Total ada sekitar 43 yang terdampak,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya.

    Di Sumatera Utara, tujuh cagar budaya tak luput dari bencana. Kediaman Tjong A Fie, Masjid Raya Al Osmani, Masjid Raya Al Mashun, hingga dua Bagas Godang di Sipirok dan Muaratais turut terendam luapan air. Meski beberapa lokasi kini mulai surut, kerusakan struktur tetap menjadi perhatian utama tim konservasi.

    Sumatera Barat mencatat dua situs yang terdampak: Rumah Pahlawan Nasional Rasuna Said dan jalur kereta bersejarah Sawahlunto–Teluk Bayur. Keduanya menyimpan kisah panjang perjuangan dan perkembangan transportasi di Minangkabau, sehingga kerusakannya menjadi kehilangan yang tak sederhana.

    Fadli Zon menambahkan bahwa 72 juru pelihara situs turut merasakan dampak langsung bencana. Meski semuanya selamat, banyak rumah mereka rusak akibat banjir. “Mereka ini yang menjaga situs dari hari ke hari. Rumahnya kebanjiran, rusak, dan lain-lain,” katanya.

    Sebagai langkah awal pemulihan, pemerintah telah menggalang dana Rp1,5 miliar yang akan disalurkan melalui balai pelestarian kebudayaan di tiga provinsi. Dana tersebut difokuskan untuk penyelamatan artefak, perbaikan struktur, serta pendataan lanjutan untuk menentukan tingkat kerusakan secara lebih detail.

    Dalam lanskap budaya Nusantara yang kaya, situs sejarah bukan sekadar bangunan tua, melainkan tali pengikat ingatan kolektif. Kerusakan yang ditinggalkan banjir kali ini menjadi pengingat bahwa melestarikan warisan tidak dapat dipisahkan dari menjaga alam yang menaunginya.

    Banjir Sumatera 2025 Cagar Budaya Indonesia Kerusakan Lingkungan Pelestarian Sejarah
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ericka

    Related Posts

    Gubernur Minta Menteri LH Bantu Normalisasi Sungai Mahakam

    4 Juli 2025

    Kemenhut Tetapkan 332 Ribu Ha Hutan Adat, Satgas Dilibatkan

    4 Juli 2025

    Salah Waktu Siram Tanaman Bisa Bikin Tagihan Air Membengkak

    28 Juni 2025

    Comments are closed.

    © 2026 Kenai.id by Dexpert, Inc.
    PT Sciedex Multi Press
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.