Jakarta – Seperti pesta panen yang memadukan banyak rupa hasil bumi Nusantara, SEA Games 2025 di Thailand akan menjadi ajang kumpul puluhan cabang olahraga dari seantero Asia Tenggara. Tuan rumah menetapkan 50 cabang olahraga resmi dan tiga cabang ekshibisi untuk mengisi pesta olahraga kawasan edisi ke-33 itu.
Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) menjelaskan keputusan tersebut dihasilkan dalam rapat SEA Games Federation (SEAGAF) di Bangkok pada Oktober lalu. Thailand sebagai tuan rumah menyepakati akan mempertandingkan 569 nomor dari 50 cabang olahraga dan 105 disiplin. Selain itu, panitia juga memasukkan tiga cabang ekshibisi, yakni flying disc, tarik tambang (tug of war), serta air sport berupa paragliding dan paramotor yang akan meramaikan kompetisi tanpa ikut memperebutkan medali resmi.
“Hasil SEAGAF Meeting, di mana NOC Indonesia diwakili Komite Eksekutif Antonius Adi dan Akbar Nasution disepakati SEA Games 2025 akan mempertandingkan 569 nomor pertandingan dari 50 cabang olahraga dan 105 disiplin. Ditambah tiga demo sports yaitu flying disc, tug of war atau tarik tambang dan paragliding,” kata Ketua Umum NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari.
Okto menjelaskan, daftar cabang olahraga SEA Games 2025 tetap mengedepankan nomor-nomor wajib yang juga dipertandingkan di Asian Games dan Olimpiade, seperti atletik, akuatik, bulutangkis, senam, hingga angkat besi. Di saat yang sama, sejumlah cabang khas kawasan seperti pencak silat, sepak takraw, dan muaythai tetap dipertahankan sebagai identitas olahraga Asia Tenggara.
“Kami menyambut baik komitmen tuan rumah, Thailand untuk SEA Games 2025. Ini adalah kesempatan besar bagi atlet-atlet Indonesia untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka dan membawa pulang prestasi bagi bangsa. Kami akan memberikan dukungan penuh dalam persiapan, baik secara teknis maupun mental, agar target prestasi dapat tercapai,” tutur Okto.
NOC Indonesia menyebut sudah menjalin koordinasi intensif dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta induk organisasi masing-masing cabang olahraga. Sejumlah cabor mulai menggelar pemusatan latihan jangka menengah sebagai fondasi menuju persiapan resmi, agar atlet sudah dalam kondisi matang ketika memasuki fase pelatnas utama.
Okto menegaskan, SEA Games 2025 juga harus dipandang sebagai batu loncatan menuju panggung yang lebih besar. Ia menyinggung Olimpiade Los Angeles 2028 sebagai target jangka panjang, sehingga performa di Thailand nanti akan dijadikan barometer level daya saing atlet Indonesia sekaligus bahan evaluasi pembinaan prestasi.
“Olimpiade sudah seharusnya menjadi tujuan utama dari atlet-atlet Indonesia. Menuju LA 2028, kami berharap SEA Games menjadi ajang atlet-atlet Indonesia untuk uji coba kemampuan, jadi dari SEA Games bisa terukur levelnya sudah sampai mana, dan sekaligus bisa langsung evaluasi untuk selanjutnya,” jelasnya.
SEA Games 2025 sendiri akan digelar di tiga kota, yaitu Bangkok, Chonburi, dan Songkhla. Sejumlah cabang digabung dalam satu kategori ekstrem, seperti panjat tebing, ski air dan wakeboard, skateboard, serta jetski, untuk menjawab tren olahraga urban di kalangan generasi muda. Dari cabang-cabang klasik seperti sepak bola dan bola voli, hingga cabang baru seperti esport dan teqball, pesta olahraga ini diharapkan menjadi cerminan dinamika olahraga modern di Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, komposisi cabang dan nomor pertandingan ini menjadi peta awal menentukan fokus kekuatan, dari olahraga Olimpiade hingga cabor tradisional yang menjadi keunggulan kawasan. Layaknya meracik rempah dalam satu belanga, keberhasilan Merah Putih di SEA Games 2025 bukan hanya soal raihan medali, tetapi juga kemampuan memadukan strategi pembinaan, regenerasi atlet, dan semangat persaudaraan serumpun.

