Jakarta – Pandangan bahwa kecerdasan buatan atau AI merupakan musuh tenaga kerja manusia mulai goyah. Berdasarkan laporan terbaru bertajuk AI Jobs Barometer 2025 dari PwC, teknologi AI justru membawa potensi pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, bukan penghapusan peran manusia.
Studi tersebut menganalisis lebih dari 800 juta iklan pekerjaan serta ribuan laporan keuangan dari perusahaan di enam benua. Temuan utamanya adalah bahwa AI berperan besar dalam menciptakan pekerjaan baru, menaikkan upah, dan mendukung transformasi profesi menjadi lebih kompleks dan strategis.
“Yang menyebabkan orang bereaksi dalam lingkungan ini adalah kecepatan inovasi teknologi. Inovasi teknologi bergerak sangat cepat—lebih cepat dari apa pun yang pernah kita lihat sebelumnya,” ujar Joe Atkinson, Chief AI Officer Global PwC, seperti dikutip dari CNBC.
PwC mengidentifikasi dan membantah enam mitos besar tentang AI. Pertama, klaim bahwa AI belum berdampak pada produktivitas dibantah dengan fakta bahwa sektor yang mengadopsi AI mencatatkan produktivitas hampir empat kali lebih tinggi. Kedua, terkait upah, pekerja dengan keterampilan AI menerima upah 56 persen lebih tinggi daripada yang tidak memiliki keterampilan tersebut.
Ketiga, mitos bahwa AI mengurangi jumlah pekerjaan juga terpatahkan. Sektor pekerjaan yang kurang terpapar AI justru tumbuh 65 persen dari 2019 hingga 2024, sementara pekerjaan yang berhubungan erat dengan AI tumbuh 38 persen. Keempat, klaim bahwa AI memperparah kesenjangan sosial-ekonomi ditepis lewat data bahwa AI justru membuka akses karena kebutuhan terhadap gelar formal menurun.
Kelima, AI diklaim menghapus keterampilan lama. Namun kenyataannya, AI memungkinkan pekerja beralih ke keterampilan baru yang lebih bernilai, misalnya dari entri data ke analisis data. Keenam, pekerjaan yang bisa diotomatisasi tidak kehilangan nilainya, tapi justru mengalami transformasi menjadi lebih kreatif dan kompleks.
Carol Stubbings, Kepala Komersial Global PwC UK, menegaskan bahwa tren ini sudah terlihat sejak revolusi industri: pekerjaan lama hilang, tapi digantikan oleh pekerjaan baru. Tantangannya terletak pada kesiapan sumber daya manusia.
“Jadi tantangannya bukan soal akan ada atau tidaknya pekerjaan. Tapi apakah pekerja siap mengambil pekerjaan baru tersebut,” ujarnya.
PwC menekankan bahwa AI seharusnya tidak hanya dilihat sebagai alat efisiensi, melainkan sebagai strategi pertumbuhan jangka panjang. Dunia kerja, menurut laporan ini, justru dapat menjadi lebih inklusif dan produktif dengan integrasi AI yang tepat sasaran.

