Close Menu
Kenai.idKenai.id
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Senin 23 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kenai.idKenai.id
    • Berita
    • Nusantara
    • Lifestyle
    • Artikel
    • Promosi
    Kenai.idKenai.id
    Beranda » Tuli Akibat Headset, Ancaman Senyap di Balik Hiburan Favorit
    Kesehatan

    Tuli Akibat Headset, Ancaman Senyap di Balik Hiburan Favorit

    By Richard16 Juni 2025Updated:16 Juni 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ilustrasi pengguanaan headset berlebihan yang sebabkan ketulian (.inet)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Di balik alunan musik favorit yang mengalun lewat headset, terselip risiko senyap yang mengancam kualitas hidup: gangguan pendengaran permanen. Meski tak langsung terasa, kerusakan akibat paparan suara dari perangkat audio pribadi kini menjadi masalah kesehatan serius, terutama di kalangan generasi muda.

    Dr. dr. Fikri Mirza Putranto, Sp.THT-KL(K), dalam seminar daring Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Kamis (12/6/2025), mengungkapkan bahwa gangguan pendengaran dari perangkat pribadi semakin sering ditemui dalam praktik medis. Ia menyoroti bahwa gejala awal seperti berdenging atau rasa penuh di telinga kerap diabaikan karena dianggap ringan.

    “Kita jarang sadar karena awalnya hanya terasa berdenging atau ‘kemeng’, tapi lama-lama kemampuan membedakan suara bisa hilang,” ujar Fikri.

    Yang membuat kondisi ini semakin berbahaya adalah sifat suara dari konten hiburan yang menyenangkan, sehingga tidak dianggap sebagai ancaman oleh otak. Ia mencontohkan kebiasaan mendengarkan musik sepanjang malam saat belajar, yang membuat telinga terus terpapar suara keras tanpa henti.

    Fikri menjelaskan bahwa paparan suara keras secara terus-menerus bisa merusak sel rambut dalam dan saraf pendengaran, yang mengirim sinyal suara ke otak. Jika rusak, seseorang akan kesulitan mendengar percakapan, terutama di lingkungan bising.

    “Gejala awal bisa berupa berdenging, rasa penuh di telinga, atau kesulitan memahami percakapan di tempat ramai,” jelasnya.

    Ia merekomendasikan aturan “60-60”: gunakan volume tidak lebih dari 60 persen, dengan durasi maksimal 60 menit per hari. Jika volume sudah masuk area merah, itu berarti risiko kerusakan sudah tinggi.

    Mengenai pilihan perangkat, Fikri menyarankan model over-ear dengan fitur noise cancellation untuk lingkungan ramai. Namun, ia menegaskan bahwa harga mahal tidak menjamin keamanan jika digunakan secara tidak bijak.

    “Semahal apa pun perangkatnya, kalau volume dinaikkan terus, tetap bisa merusak pendengaran,” tegasnya.

    Fikri juga menyarankan pemeriksaan rutin bagi mereka yang menggunakan headset lebih dari 4 jam per hari, memakai volume tinggi, atau mengalami nyeri atau berdenging. Pemeriksaan ini bisa dilakukan lewat BPJS dengan rujukan yang sesuai.

    “Tuli akibat bising adalah kecacatan yang tidak terlihat. Hanya Anda sendiri yang tahu seberapa parahnya,” kata Fikri, menekankan pentingnya kesadaran kolektif.

    Melindungi pendengaran sejak dini bukan hanya soal fisik, tapi juga menyangkut aspek mental dan sosial. Maka, mulai sekarang: kendalikan volume, batasi durasi, dan lakukan pemeriksaan rutin.

    Aturan 60-60 Headset Kesehatan Telinga Pendengaran Tuli Akibat Bising
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Richard

    Related Posts

    Prabowo Instruksikan Pembangunan 66 RS Baru Berstandar RSKEI

    19 November 2025

    Kenali 4 Jenis Kanker Kulit, Salah Satunya Paling Mematikan

    4 Juli 2025

    Picu Mimpi Buruk, Psikologi Ungkap Hubungan Makanan dan Tidur

    3 Juli 2025

    Comments are closed.

    © 2026 Kenai.id by Dexpert, Inc.
    PT Sciedex Multi Press
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.