Jogja – Di balik bentuknya yang kecil dan menyeramkan, undur-undur menyimpan rahasia kesehatan yang menarik. Banyak masyarakat mengenal hewan ini hanya sebagai serangga liar penghuni pasir. Namun kini, larva dari serangga Myrmeleon sp. ini mulai mencuri perhatian sebagai bahan alternatif pengobatan, terutama untuk penderita diabetes melitus.
Undur-undur, yang dikenal juga sebagai antlion larvae dalam bahasa Inggris, merupakan bentuk larva dari serangga bersayap jala dalam ordo Neuroptera. Dalam fase larvanya, hewan ini dikenal sebagai predator ganas semut dan serangga kecil lain. Namun ketika dewasa, antlion justru bertransformasi menjadi serangga lembut peminum nektar yang hanya hidup sekitar sebulan.
Penelitian dari Universitas Jember menyebutkan bahwa undur-undur darat mengandung senyawa sulfonylurea, zat aktif yang dapat merangsang pankreas memproduksi insulin. Zat ini juga ditemukan dalam beberapa obat medis untuk penderita diabetes, sehingga konsumsi undur-undur dipercaya dapat menurunkan kadar gula darah secara alami.
“Undur-undur memiliki kandungan yang dapat membantu memperbaiki fungsi pankreas. Ini penting dalam pengendalian kadar gula darah,” ungkap Mia Roosmalisa Dewi dalam artikelnya di Repository Universitas Jember.
Metode konsumsi undur-undur pun beragam, mulai dari menelannya secara langsung dalam kondisi hidup, mengeringkannya lalu dijadikan kapsul, hingga dikombinasikan dengan bawang putih tunggal. Namun, metode ini masih bersifat tradisional dan belum melalui uji klinis komprehensif, sehingga masyarakat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis sebelum mencobanya.
Selain diabetes, undur-undur juga disebut-sebut bermanfaat untuk penyakit kuning dan maag menurut Journal of Halal Product and Research. Namun, persoalan kehalalan konsumsi serangga ini masih menjadi perdebatan, terutama dari sudut pandang etnozoologi dan syariat.
Larva ini dikenal luas di berbagai habitat dunia, dari hutan berpasir hingga lahan pertanian. Di Indonesia sendiri, praktik konsumsi undur-undur telah lama dilakukan secara turun-temurun, meski belum dibarengi dengan legalitas medis yang memadai.
Bagi masyarakat modern, fenomena ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal bisa membuka pintu pada solusi kesehatan alternatif. Namun kehati-hatian tetap penting, mengingat setiap pengobatan tradisional membutuhkan kajian ilmiah dan medis yang lebih mendalam sebelum diterapkan secara luas.

