Denpasar – Seperti anyaman endek Bali yang rapi dan kuat, pemerintah menata ulang fondasi ekonomi kreatif digital agar makin berdaya saing. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria membeberkan tiga pilar untuk mengerek kinerja sektor ini: pemerataan infrastruktur, penguatan talenta, serta tata kelola berbasis etika teknologi.
Pada Sabtu (1/11/2025) di Denpasar, Nezar menegaskan siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana langkahnya: pemerintah (siapa) mendorong akselerasi ekraf-digital (apa) lewat kebijakan yang sudah dirumuskan (bagaimana), disampaikan di Bali (di mana) sehari sebelum publikasi ini (kapan), untuk memastikan daya saing global sekaligus perlindungan publik (mengapa). Tiga fokus itu disebut sebagai kerangka kerja lintas program yang menghubungkan pelatihan, insentif, dan regulasi.
“Tiga fokus utama tersebut adalah penguatan infrastruktur agar merata dan berkualitas, pengembangan talenta digital yang lebih kreatif dan kompeten, serta penetapan tata kelola yang berlandaskan etika teknologi,” kata Nezar.
“Sektor ekonomi kreatif adalah kekuatan riil yang terus tumbuh,” ucap dia.
Nezar menekankan transformasi digital sebagai pendorong utama pertumbuhan. Ia menyebut kontribusi ekraf-digital terhadap ekonomi nasional telah signifikan—menembus nilai lebih dari Rp1.500 triliun terhadap PDB dan menyerap lebih dari 24 juta tenaga kerja. Angka itu, menurutnya, adalah sinyal bahwa skala dan dampak sosialnya kian meluas.
Di sisi teknologi, Nezar menyoroti potensi kecerdasan artifisial (AI) untuk melipatgandakan produktivitas dan kreativitas, sembari mengakui adanya tantangan adopsi.
“Adopsi AI masih teratasi oleh biaya tinggi, kompleksitas teknis, dan ketidakpastian regulasi hak cipta. Kemampuannya yang super-realistik juga berpotensi disalahgunakan, sehingga tata kelola yang baik menjadi sangat penting,” jelasnya.
Menjawab tantangan tersebut, pemerintah tengah menyiapkan Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional serta rancangan Peraturan Presiden tentang Etika AI. Kebijakan ini diharapkan menjadi landasan pengembangan AI yang aman, inklusif, dan berpihak pada kepentingan publik—dari perlindungan data hingga akuntabilitas algoritma.
Nezar menambahkan bahwa ekosistem ekraf-digital akan dikembangkan secara berkelanjutan dan kolaboratif, menyatukan pelaku industri, komunitas kreatif, akademisi, dan pemerintah daerah. Di lapangan, implementasi diarahkan menyasar pemerataan akses internet berkualitas, program talenta yang relevan dengan kebutuhan industri, serta standar tata kelola yang memastikan inovasi tidak mengorbankan etika.
Pada akhirnya, visi ini merangkum semangat Nusantara: teknologi menjadi wasilah, manusia pusatnya. Dengan fondasi yang tepat, gagasan kreatif anak bangsa tidak sekadar bersinar di etalase domestik, tetapi juga menjejak kokoh di pasar global.

