Jakarta – “Jangan abaikan tanda kecil, karena bisa jadi itu panggilan bahaya tubuh.” Menjelang peringatan Hari Sel Sabit Sedunia yang jatuh pada 19 Juni 2025, para pakar kesehatan mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal dan kondisi darurat dari penyakit sel sabit atau sickle cell disease (SCD), sebuah penyakit keturunan yang berpotensi mengancam jiwa sejak usia dini.
Penyakit ini muncul akibat kelainan bentuk sel darah merah yang berubah menyerupai sabit, sehingga aliran darah terhambat dan organ tubuh kekurangan oksigen. Gejala bisa muncul sejak bayi berusia beberapa bulan, mulai dari kulit kekuningan, kelelahan ekstrem, hingga pembengkakan nyeri di tangan dan kaki. Tanpa deteksi dan penanganan dini, penderita dapat mengalami komplikasi berat, termasuk infeksi serius dan stroke.
“Gejala awalnya sering dianggap remeh, padahal bisa jadi sinyal penting adanya masalah serius dalam darah anak,” jelas Dr. Ria Apriani Kusumastuti, dalam keterangannya pada Selasa (17/6/2025). Ia menegaskan bahwa kesadaran orang tua sangat dibutuhkan agar anak mendapat perawatan tepat waktu.
Gejala darurat yang memerlukan tindakan medis segera antara lain nyeri hebat (disebut krisis nyeri), sesak napas, kelelahan berat, serta demam tinggi. Pada kasus tertentu, penderita bisa mengalami acute chest syndrome, yakni kombinasi nyeri dada dan sesak napas yang mengarah pada gagal napas akut. Selain itu, tanda-tanda stroke seperti kebingungan, kelemahan mendadak, atau kesulitan berbicara juga menjadi sinyal bahaya yang harus segera ditangani.
“Ketika anak tampak tidak biasa—lebih rewel, lemas, atau bahkan sulit bernapas—segera periksakan ke rumah sakit. Jangan tunggu,” tambahnya.
Langkah pencegahan dan pengelolaan SCD meliputi skrining genetik, pemeriksaan rutin, dan edukasi pada keluarga berisiko. Pemeriksaan bayi baru lahir kini menjadi kunci untuk menemukan kasus lebih awal, sehingga bisa segera dilakukan intervensi medis.
Penyakit sel sabit tidak hanya menyakitkan secara fisik, tetapi juga berdampak besar terhadap kualitas hidup penderita. Oleh karena itu, memperingati Hari Sel Sabit Sedunia bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit darah langka ini.

