Jakarta – Ketika banyak vendor smartphone berjuang menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan perang dagang, Apple justru melaju kencang. Dengan strategi peluncuran iPhone 16e yang lebih terjangkau dan ekspansi agresif ke pasar non-tradisional, perusahaan asal Cupertino itu berhasil merebut posisi teratas sebagai penguasa pasar smartphone global pada kuartal pertama (Q1) 2025.
Menurut laporan firma riset Counterpoint, pasar smartphone global tumbuh tipis 3% secara tahunan (year-on-year/YoY). Meski pertumbuhan ini tergolong kecil, Apple berhasil mencetak peningkatan penjualan sebesar 4% YoY dengan meraup pangsa pasar global sebesar 19%. Strategi Apple meluncurkan produk murah dan memperluas cakupan ke kawasan seperti Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika terbukti jitu dalam memperkuat dominasinya.
“Pertumbuhan Apple dipicu peluncuran iPhone 16e di awal tahun serta ekspansi di pasar non-inti yang signifikan,” demikian laporan Counterpoint yang dirilis Sabtu (10/4/2025).
Sebaliknya, Samsung yang sebelumnya berada di posisi puncak harus turun ke peringkat kedua dengan pangsa pasar 18%, menandai penurunan 5% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini sebagian besar disebabkan keterlambatan peluncuran Galaxy S25, meskipun penjualan kembali meningkat pada Maret setelah peluncuran resminya.
Meski demikian, analis Counterpoint, Ankit Malhotra, mengingatkan bahwa lonjakan awal ini belum tentu menjadi tren berkelanjutan.
“Kami terus menganalisis perubahan kebijakan global dan saat ini memprediksi pasar smartphone akan kembali menurun sepanjang 2025, meski Q1 menunjukkan pertumbuhan,” ujarnya.
Di bawah Apple dan Samsung, posisi ketiga ditempati Xiaomi dengan pangsa pasar 14%, diikuti Vivo dan Oppo masing-masing 8%. Xiaomi mencatat pertumbuhan 5% YoY berkat ekspansi ke segmen premium dan penguatan pasar domestik. Sementara itu, Oppo justru mencatat penurunan tipis 1%, meski tetap menunjukkan perbaikan di India, Amerika Latin, dan Eropa.
Nama-nama di luar ‘Top 5’ seperti Huawei, Honor, dan Motorola mulai menunjukkan taringnya. Huawei menjadi vendor terbesar di China, sedangkan Honor dan Motorola tumbuh pesat di beberapa negara, memperlihatkan dinamika baru dalam kompetisi global smartphone.
Walaupun tren inovasi seperti GenAI dan ponsel lipat masih menggeliat, Counterpoint memproyeksikan pasar smartphone akan menghadapi tekanan baru sepanjang 2025. Perang tarif dan ketidakpastian ekonomi menjadi faktor utama yang bisa menunda keputusan konsumen untuk membeli ponsel baru.
Meski demikian, lonjakan Apple di awal tahun ini menunjukkan bahwa dengan strategi produk dan penetrasi pasar yang tepat, peluang untuk tumbuh tetap terbuka lebar bagi pemain besar di industri ini.

