Aceh Tengah – Di tanah dataran tinggi yang biasanya tenang seperti hamparan kopi Gayo, tiba-tiba bumi seolah membuka mulutnya sendiri. Lubang raksasa yang muncul di Desa Pondok Balek memicu kecemasan warga, seakan tanah bisa menelan apa saja tanpa peringatan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa fenomena tersebut bukanlah sinkhole seperti yang banyak dikhawatirkan masyarakat. Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa kondisi geologi di kawasan tersebut tidak mendukung terbentuknya sinkhole karena tidak terdapat batuan kapur yang mudah larut oleh air. Sebaliknya, wilayah itu tersusun dari batuan tufa, material vulkanik yang rapuh dan mudah tererosi.
“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” ujar Adrin, Selasa (10/2/2026).
Fenomena ini sebenarnya bukan kejadian yang muncul secara tiba-tiba. Berdasarkan analisis citra satelit, indikasi terbentuknya lembah kecil di lokasi tersebut sudah terlihat sejak 2010. Proses alam ini berlangsung perlahan selama bertahun-tahun hingga akhirnya membentuk lubang besar yang kini terlihat jelas di permukaan.
BRIN mengidentifikasi tiga faktor utama yang mempercepat terjadinya longsoran tersebut. Pertama, dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 pada tahun 2013 yang melemahkan struktur tanah. Kedua, curah hujan tinggi yang membuat tanah jenuh air sehingga kehilangan daya ikat. Ketiga, resapan air dari saluran irigasi yang mempercepat erosi di lapisan bawah tanah.
Kondisi ini membuat tanah menjadi tidak stabil dan rentan runtuh, terutama di area dengan lereng curam. Bahkan, prosesnya disamakan dengan pembentukan ngarai alami seperti Ngarai Sianok di Sumatera Barat yang memiliki karakteristik batuan serupa.
Sebagai langkah mitigasi, BRIN merekomendasikan pengendalian aliran air permukaan, terutama dari irigasi, serta penetapan zona bahaya agar masyarakat tidak mendekati area rawan longsor. Selain itu, penelitian lanjutan menggunakan metode geofisika dinilai penting untuk memetakan kondisi bawah tanah secara lebih akurat.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa alam bekerja dalam senyap, perlahan namun pasti. Seperti pepatah lama, retakan kecil di bumi bisa menjadi cerita besar jika manusia lengah membacanya.

